Instalasi WordPress Offline

Kali ini saya akan mengulas tentang bagaimana cara install wordpress di localhost atau di komputer pribadi. Keunggulan cara ini, kamu tidak perlu memakai koneksi internet, artinya kamu akan membuat wordpress offline. Asalkan ada web server, maka kamu bisa ber-wordpress tanpa internet.

Perlu dicatat, pada tutorial ini saya memakai sistem operasi Windows 7 64 bit, kamu bisa menerapkan tutorial ini di windows XP atau OS windows sejenisnya.

Web server yang saya pakai adalah apache versi 2.xx. Cara mudahnya kamu bisa memakaiXAMPP atau WAMP untuk menginstall apache web server. Di tutorial ini saya sendiri memakai XAMPP.

XAMPP adalah …

Sebelum menginstall wordpress di localhost, kita harus tahu apa itu XAMPP?, danmengapa memakai XAMPP?.

Menurut wikipedia Indonesia:

XAMPP adalah perangkat lunak bebas, yang mendukung banyak sistem operasi, merupakan kompilasi dari beberapa program.

Fungsinya adalah sebagai server yang berdiri sendiri (localhost), yang terdiri atas program Apache HTTP Server, MySQL database, dan penerjemah bahasa yang ditulis dengan bahasa pemrograman PHP dan Perl. Nama XAMPP merupakan singkatan dari X (empat sistem operasi apapun), Apache, MySQL, PHP dan Perl. Program ini tersedia dalam GNU General Public License dan bebas, merupakan web server yang mudah digunakan yang dapat melayani tampilan halaman web yang dinamis. Untuk mendapatkanya dapat mendownload langsung dari web resminya.

Singkatnya, XAMPP memudahkan kita dalam menginstall aplikasi-aplikasi server. Sehingga kita tidak perlu menginstall software tersebut satu-persatu.

Step by Step Cara Install XAMPP

Langkah pertama dari tutorial install wordpress di localhost adalah menginstall XAMPP. Ikuti langkah-langkah berikut untuk menginstall XAMPP di windows:

00 - Step by step cara install XAMPP

 

01 - Step by step cara install XAMPP

 

02 - Step by step cara install XAMPP

 

03 - Step by step cara install XAMPP

  1. Double click XAMPP yang telah kamu download. Lalu pilih bahasa apa yang ingin kamu pakai. Di sini saya memakai bahasa Inggris. Jika ada pop up klik Yes.
  2. Pada jendela petama klik Next.
  3. Di sini, sistem akan menanyakan alamat dimana kamu ingin menyimpan XAMPP. Saya sarankan biarkan saja secara default atau di C:\XAMPP. Klik Next.
  4. Langkah selanjutnya, kamu diminta untuk memilih aplikasi apa saja yang ingin kamu install. Centang semua plikasi. Klik next.
  5. Tunggu beberapa saat hingga instalasi selesai. Jika ada pop up muncul, klik Yes. Setelah sekesai klik finish.

Selamat, sedikit lagi sampai tahap install wordpress di localhost, sampai saat ini seharunya kamu tidak mempunyai masalah. Jika terdapat error pada cara install XAMPP di atas, kita bahas dipage 2.

Error Setelah Install XAMPP

Terkadang, meskipun kita sudah sesuai prosedur menginstall XAMPP, tetapi masih aja ada error. Biasanya disebabkan oleh software lain yang memakai localhost juga. Untuk itu langkah pertama mengatasi error adalah, tutup semua aplikasi yang memakai localhost.

Kemungkinan besar, jika error ini tidak diselesaikan kita akan gagal membuat wordpress offline

Contoh aplikasi yang memakai localhost seperti WAMPP, apserv, HostIP, dll. Jika masih tidak bisa, uninstall software tersebut. Kamu harus uninstall software tersebut sampai ke root.

Di bawah, adalah error yang saya alami ketika membuat tutorial ini. Jika kamu memakai skype, sebaiknya keluar dulu untuk sementara.

05 - Error pada XAMPP sebelum Install WordPress Offline

 

06 - Error pada XAMPP sebelum Install WordPress Offline

 

07 - Error pada XAMPP sebelum Install WordPress Offline

  1. Setelah klik finish, terjadi error seperti ini. Jika ada pop up, klik Yes.
  2. Setelah selesai, kamu diminta untuk memilih apakah XAMPP langsung dinyalakan. Klik Yes.

Menghidupkan Apache Web Server di XAMPP

Untuk mulai menghidupkan apache, kamu tinggal klik ikon XAMPP yang ada desktop atau start menu windows kamu. Tetapi seharusnya XAMPP sudah menyala secara default karena tadi kita sudah setting opsi ini.

08 - Menghidupkan Apache

 

09 - Menghidupkan Apache

 

10 - Menghidupkan Apache

  1. Klik icon XAMPP di desktop atau di start menu.
  2. Pada Modules Services, centeng semua kecuali Mercury dan Tomcat. Setelah itu klik tombol start yang ada di sebelah kanannya.
  3. Jika ada pop up dari widows firewall, centeng “Private network, such as my home or work network
  4. Selamat, sampai sini seharusnya apache di PC kamu sudah hidup. Langkah selanjutnya adalah menginstall wordpress :).

Cara Install WordPress di Localhost

Sekarang saatnya kita membahas bagaimana cara menginstall wordpress di localhostkomputer.

Jika kamu ingin mencoba langsung menginstall wordpress online di webhosting, kamu bisa mengikuti cara di bawah.

Untuk hosting, sejauh ini saya merekomendasikan Hostgator, Hawkhost, atau Site5. Jika ingin memilih web hosting lokal saya lebih merekomendasikan Masterweb.

Jika kamu belum yakin, saya sarankan kamu memakai hosting gratis dulu.

Membuat WordPress Offline di Komputer

Sebelum masuk menginstall wordpress, kita harus sudah menyiapkan terlebih dahulu sebuah database, ikuti langkah-langkah di bawah:

Cara Membuat Databases di phpMyAdmin

01 - Cara Membuat Databases di XAMPP

 

03 - Cara Membuat Databases di XAMPP

 

04 - Cara Membuat Databases di XAMPP

 

05 - Cara Membuat Databases di XAMPP

  1. Sekarang, masuk ke browser. Ketikan http://localhost/phpmyadmin/. Lalu masuk pada menu Databases yang ada pada bagian paling atas.
  2. Pada bagian Create database masukan nama database yang ingin kamu buat. Di sini saya memakai nama myblog. Setalah itu klik tombol Create. Simpan nama database tadi pada notepad.
  3. Selanjutnya, klik databases yang baru kamu buat, kamu bisa menemukannya di bagian sebelah kiri.
  4. Setelah di klik, klik menu Privileges yang bisa kamu temukan di bagian atas.
  5. Lihat pada bagian new (bawah). Kemudian klik Add User.
  6. Sekarang, siapkan notepad yang tadi. Pada bagian username, isikan dengan nama kamu/bebas. Host, isi dengan localhost. Password, dengan password kamu. Selanjutnya simpan semua data yang telah kamu tulis tadi dalam notepad.
  7. Pada bagian Database for user biarkan secara default. Untuk bagian Global privileges, klik Check All. Untuk Resource limits, isi dengan 0 semua.
  8. Periksa lagi semua langkah, Lalu klik Add User.

Sampai di sini, kita sudah berhasil membuat satu databes dengan XAMPP. Selanjutnya kita akan menginstall databes tersebut untuk wordpress.

Cara Install WordPress di Localhost

01 - Cara Membuat Blog di Localhost

02 - Cara Membuat Blog di Localhost

03 - Cara Membuat Blog di Localhost

04 - Cara Membuat Blog di Localhost

05 - Cara Membuat Blog di Localhost

06 - Cara Membuat Blog di Localhost

07 - Cara Membuat Blog di Localhost

08 - membuat wordpress offline

  1. Download dahulu CMS wordpress dari wordpress.org. Pada saat tulisan ini dubuat saya memakai WordPress 3.4.2
  2. Selanjutnya, pindahkan wordpress yang sudah kamu download ke folder htdocs yang ada di dalam direktori xampp atau di C:\xampp\htdocs. Ekstrak di sana.Penting: Kamu akan mendapati sebuah folder yang bernama wordpress, kamu boleh mengganti namanya. Saya sendiri mengganti nama wordpress dengan myblogNantinya blog kamu akan bisa di akses dengan alamat http://localhost/myblog atauhttp://localhost/nama_folder_wordpress_tadi
  3. Setelah menyimpan semua data databases yang kamu buat tadi pada notepad, sekarang kita akan menggunakannya. Buka browser kamu lalu ketikan alamat wordpress yang sudah kamu simpan.Dalm hal ini saya membukanya di http://localhost/myblog.
  4. Klik Create Configuration File, lalu klik Let’s Go.
  5. Selanjutnya isi data yang diminta sesuai dengan data databases yang baru kamu buat. UntukTable Prefix, biarkan secara default. Lalu klik submit.
  6. Jika muncul pesan “Error establishing a database connection“. Artinya data input tadi ada yang salah, biasanya karena tidak teliti user saat memasukan data databases.
  7. Jika berhasil, maka akan muncul pesan:All right sparky! You’ve made it through this part of the installation. WordPress can now communicate with your database. If you are ready, time now to…

Klik Run the install.

  1. Pada tahap ini, kamu diminta mengisikan data kamu, seperti nama, email, dan password untuk login ke blog yang di buat ini nanti. Isikan semua field. Lalu klik Install Wordpess.
  2. Jika berhasil kamu akan mendapatkan pesan“Success!, WordPress has been installed. Were you expecting more steps? Sorry to disappoint.”
  3. Selamat!! kamu sudah berhasil unstall wordress pada localhost. Dengan cara yang sama, cara ini bisa dipakai untuk install wordpress pada Web Hosting kamu.

 

Apa Selanjutnya?

Tahap ini kamu sudah berhasil/bisa intall wordpess pada localhost di PC kamu. Untuk mengakses blog wordpress yang baru kamu buat kamu tinggal mengunjugi urlhttp://localhost/nama_folder_wordpress. Selanjutnya kamu bisa melkukan pengaturan-pengaturan dasar pada wordpress.

Iklan
Dipublikasi di INSTALASI WORDPRESS OFFLINE | Meninggalkan komentar

Penelitian Faktor sosial ekonomi dalam pengembangan agroindustri gula kelapa

TEMPAT DAN WAKTU PENELITIAN

  1. Tempat Penelitian

Penelitian dilaksanakan di Desa Tangkisan, kecamatan Mrebet, kabupaten Purbalingga. Lokasi penelitian ini didasarkan pada hasil survei yang telah dilakukan dan ternyata sebagian besar penduduk mengusahakan gula kelapa, yaitu sekitar 616 petani perajin gula kelapa (12,24%) dari keseluruhan jumlah penduduk (monografi Desa Tangkisan, Januari 2003).

  1. Waktu Penelitian

Penelitian dilaksanakan selama 3 bulan dimulai dari bulan November 2003 sampai dengan Januari 2004. Kegiatan pengumpulan data dari 1 November sampai dengan 31 Desember 2003.

HASIL PENELITIAN

Faktor sosial ekonomi yang mempengaruhi dalam pengembangan agroindustri gula kelapa

  1. Pendapatan

Pendapatan yang diperoleh keluarga petani perajin gula kelapa merupakan hasil dari penjualan produk yang berupa gula kelapa. Jika penjualan produk banyak dengan sendirinya juga pendapatan akan banyak. Tingkat pendapatan mempengaruhi dalam pengkonsumsian suatu barang baik kuantitas maupun kualitas.

Distribusi pendapatan terbesar adalah 76,32 persen. Kemudian disusul oleh  15,79 persen dan  7,89 persen. Dengan jumlah pohon yang disadap rata-rata 40 pohon. Pendapatan tersebut dihitung per hari berarti dua kali proses produksi.

  1. Modal

Menurut Mubyarto (1999), modal adalah barang atau uang yang bersama-sama dengan faktor produksi . penciptaan modal berarti menyisihkan kekayaan atau sebagian hasil produksi untuk maksud produktif. Modal itu dapat diperoleh dari milik sendriri atau pinjaman dari luar-kredit.

Modal pinjaman yang besar nominalnya kurang dari Rp 200.000-350.000 pada urutan pertama dan sampel terbesar. Sedangkan yang membutuhkan modal lebih besar dari Rp 350.000 pada urutan ke-2.

2. Beban tanggungan keluarga

Untuk mengetahui tingkat faktr ekonomi dari beban tanggungan keluarga yang mempengaruhi dalam pengembangan agroindustri gula kelapa. T hitung = -0,475 t tabel dengan taraf 5% = 1,66. T hitung < t tabel Ho diterima yakni tidak ada pengaruh positif dari beban tanggungan keluarga terhadap pengembangan agroindustri gula kelapa. Sedangkan dengan melihat besarnya koefisien regresi dapat diartikan bahwa variabel beban tanggungan keluarga sebesar -0,007 = -0,7%, yang berarti setiap perubahan variabel beban tanggungan keluarga 100% maka variabel pengembangan agroindustri gula kelapa berubah -0,7%.

3. Tingkat pendidikan

Untuk mengetahui tingkat faktor sosial ekonomi dari pendidikan yang mempengaruhi dalam pengembangan agroindustri gula kelapa. T hitung = -0,616 t tabel dengan taraf 5% = 1,66. T hitung < t tabel. Ho diterima yakni tidak ada pengaruh positif ari pendidikan terhadap pengembangan agroindustri gula kelapa. Sedangkan dengan melihat besarnya koefisien regresi diartikan bahwa variabel pendidikan 100% maka variabel pengembangan agroindustri gula kelapa berubah -0,8%.

Dipublikasi di PENELITIAN/KARYA TULIS | Meninggalkan komentar

Peneliti Balitkabi Diseminasikan Hasil Penelitian di Konferensi Internasional UMP

Eriyanto Yusnawan Ph.D, Sumartini MS, Sutrisno SP, Alfi Inayati MP, dan Kurnia Paramita SP mendiseminasikan hasil penelitian pada International Conference on Education Technology and Science yang diselenggarakan oleh Universitas Muhammadiyah Purwokerto (28/12/2013). Dr. Eriyanto menyampaikan makalah tentang The Effect of Rhizobium Inoculation on Total Flavonoid, Phenolic Contents, and Antioxidant Activity on Soybean Seeds. Ir Sumartini MS menyampaikan hasil penelitian tentang The Effectiveness of Clove Oil to Control Soybean Rust Disease, Sutrisno SP mempresentasikan hasil penelitian tentang Vegetative and Generative Performance of Three Soybean Varieties to Five Level Colchicines and Seeed Coat Peeling Treatments. Semua makalah tersebut mendapatkan apresisasi yang tinggi dari para audience. Hal ini terlihat dari keseriusan audience mengikuti presentasi dan ketertarikan mereka untuk menanyakan berbagai hal dalam hasil penelitian tersebut. Semua makalah tersebut mendapatkan apresisasi yang tinggi dari para audience. Hal ini terlihat dari keseriusan audience mengikuti presentasi dan ketertarikan mereka untuk menanyakan berbagai hal dalam hasil penelitian tersebut.

Seminar dengan tema utama Improving the Quality of Education to Face the Impact of Technology ini sangat menarik karena materinya lintasdisiplin mencakup bidang pendidikan, teknik, kesehatan, ilmu alam, ilmu sosial, ilmu politik, hukum, seni dan budaya, pertanian, dan teknologi pertanian. Di samping itu keynote speakernya juga ahli di bidangnya yaitu Prof. Dr. Imam Rohadi (ITS), Simon Lords (Singapura), dan Dr. Hiroshi Takeda (Torroto University). Gubernur Jawa Tengah, Bapak Ganjar Pranowo juga menjadi pembicara kunci yang tak kalah menariknya. Pembicara tamu pada seminar bidang agriculture and science adalah Dr, Rochadi Abdulhadi dari LIPI dan Dr. Danu Ariono dari ITB. Mereka menyampaikan tentang potensi berbagai sumber pangan lokal untuk mewujudkan ketahanan pangan nasional dan perkembangan ilmu pengetahuan kimia industry sejak awal penemuan hingga sekarang.

Dipublikasi di PENELITIAN/KARYA TULIS | Meninggalkan komentar

PENELITIAN KEGIATAN PERTANIAN DALAM MASYARAKAT

Nama Kegiatan :   Penelitian Mata Kuliah Studi Masyarakat Indonesia

dengan tema “Kegiatan Pertanian Dalam Masyarakat”.

Waktu Kegiatan : Hari Sabtu, 12 Mei 2012 Pukul 10:00 – 14:00 WITA

Pencapaian Penelitian : Mencari informasi yang kurat dan sebenarnya mengenai kegiatan pertanian dalam masyarakat.

Sasaran Penelitian : Masyarakat.

Lokasi Kegiatan : Rumah Pak Hasanuddin di RT 01 RW 06 Desa Jurumapin Kecamatan Buer Kabupaten Sumbawa.

Sample :   Pak Hasanuddin

HASIL PENELITIAN

A. Bentuk Pengolahan Lahan Yang Dilakukan

  1. Padi

Sawah Pak Hasanuddin terletak di sua tempat. Luas lahan sawahnya adalah 8.388 dan 1.015 . Sebelum melakukan pembajakan sawah terlebih dahulu yang dilakukan adalah membasmi tanaman penggangu atau rumput-rumput pengganggu seperti gulma dengan menngunakan herbisida agar tidak mengganggu saat proses pembajakan dan menggangu tanaman padi nantinya. Setelah itu barulah sawah di isi dengan air yang dilakukan oleh orang yang mengatur atau membagi air yang disebut Malar. Setelah air sudah di isi dan merata maka tanah siap untuk diolah atau dibajak. Sistem Pengolahan lahan yang dilakukan di desa jurumapin khususnya di sawah pak Hasanuddin sudah menggunakan sistem pengolahan secara modern dimana pengolahan tanah pertanian saat hendak ditanami padi sudah menggunakan traktor agar pengolahannya lebih maksimal dan menghemat waktu. Apabila tanahnya sudah selesai dibajak maka langkah selanjutnya adalah menanami bibit-bibit padi pada sawah yang sudah dibajak setelah bibitnya diangkut dari persemaiannya.

Pengangkutan bibit biasanya dilakukan oleh dua orang dan orang ini bisa saja berasal dari keluarga sendiri, akan tetapi apabila keluarganya sibuk dengan urusan masing-masing maka pak hasanuddin biasanya menyewa orang lain untuk mengangkut bibit dari persemaiannya ke sawah yang sudah dibajak. Begitu juga dengan orang yang menanami bibit padi adalah orang lain yang disewa. Biasanya pak hasanuddin menyewa orang sebanyak 9 atau 11 orang agar mempercepat proses penanaman. Dalam hal ini pak Hasanuddin hanya memantau saja pekerjaan dari buruh tani yang mengangkut bibit padi dan yang menanami bibit-bibit tersebut, akan tetapi kadang kala jika terjadi kekurangan air maka pak Hasanuddin turun tangan dalam mengatur intensitas air dalam sawah agar mempermudah proses penanaman.

Tidak sampai di situ, selang beberapa bulan setelah padi ditanam padi harus di pantau dengan bak agar dapat mengetahui proses perkembangannnya, mulai dari pemupukan, penyemprotan pestisida, pencabutan rumput dan eceng gondok serta pengaturan intensitas kadar air dalam sawah. Apabila semua kegiatan itu dilakukan dengan baik maka hasil panen pasti akan baik pula, musim panen tiba apabila padi sudah berisi dan menguning serta bulir padinya mengarah ke bawah. Dalam panen ini pak Hasanuddin tidak menyewa buruh tani untuk memanen padinya melainkan dilakukan oleh pak Hasanuddin sekeluarga. Ini dimaksudkan agar mengurangi jumlah pengeluarannya dan menghemat biaya apabila panen dilakukan sendiri. Apabila panen dilakukan oleh buruh tani laen ongkos yang biasa diberikan berupa gabah dengan pembagian yang sudah disepakati sebelumnya antara pemilik sawah dengan buruh tani tersebut.

2. Kacang Hijau

Luas lahan untuk penanaman kacang hijau yang berupa ladang adalah 1.730 . Sebelum melakukan penanaman kacang hijau terlebih dahulu ladangnya dibersihkan dari rumput liar dan semak belukar yang disebut “BRANTAS” dengan menyewa orang sebanyak 4 orang. Selain itu biasanya untuk membunuh gulma yang membandel Pak Hasanuddin menggunakan herbisida. Penanaman berlangsung jika musim hujan dating agar air untuk pertumbuhan kecambah dapat berlangsung dengan baik.

Setelah penanaman selesai dan kecambah tumbuh dengan baik maka langkah selanjutnya adalah memupuk tanaman kacang hijau apabila perlu dengan pupuk cair handifloor dan ditambah pula dengan pertisida lainnya untuk merangsang pembentukan buah, daun dan batang agar lebih produktif. Musim panen tiba apabila batang dan daun kacang hijau terlihat menua disertai dengan buah yang sudah berisi keras. Memanen kacang hijau dalam bahasa sumbawanya disebut “NGEMAR”. Saat ngemar Pak Hasanuddin menggunakan buruh tani sebanyak 6 orang agar ngemar yang dilakuakan menghemat waktu dan tenaga. Setelah ngemar selesai langkah selanjutnya yaitu mengeringkan dengan cara dijemur agar saat proses perontokan biji yang disebut “NINTING” biji kacang hijaumudah dirontokkan oleh mesin. Ini artinya proses perontokkan biji sudah dilakukan secara modern.

Setelah perontokkan selesai dan sudah dimasukkan ke dalam karung, langkah terakhir adalah memasarkan hasil panen tersebut kepada pengusaha yang membelinya. Namun tidak semua hasil dijual karena sebagian lagi dijadikan bibit untuk melakukan penanaman pada musim berikutnya. Hasil dari panen kacang hijau merupakan salah satu penghasilan terbesar bagi Pak Hasanuddin.

B. Jenis-Jenis Tanaman Yang Ditanam

Dalam satu musim tanam pak hasanuddin hanya menanam padi di sawahnya karena dinilai lebih baik dibandingkan jika menanam tanaman yang lain seperti kacang kedelai yang keuntungannya sangat sedikit. Adapun tanaman kacang hijau biasanya di tanam di ladang namun tidak dilakukan setiap tahun. Selain itu beliau juga terkadang menanam jagung, akan tetapi itu juga tergantung musim dan ditanam di musim tertentu dan tidak dilakukan setiap tahun, lain halnya dengan padi yang penanamannya dilakukan setiap tahun.

C. Usaha Sampingan Yang Digeluti

Selain sebagai petani yang menanam padi Pak Hasanuddin juga mempunyai kebun durian. Dalam kebun tersebut terdapat sekitar lima pohon yang sudah berusia puluhan bahan ratusan tahun. Sebagaimana diketahui bahwa muim durian dikebunnya berlangsung selama dua kali dalam satu tahun yaitu pada saat musim kemarau dan musi hujan yang rentang waktu musimnya berlangsung selama 3 bulan. Berbuahnya durian ini adalah sebuah berkah tersendiri karena menambah penghasilan bagi pak hasanudin. Beliau mengatakan bahwa dengan berlangsungnya musim durian tersebut beliau dapat meraup penghasilan lebih kurang sebanyak Rp. 1.500.000 tiap musim. Mengingat musim durian berlangsung sebanyak dua kali dalam setahun total pendapatan beliau lebih kurang menjadi Rp. 3.000.000 dalam setahun melalui durian ini. Pengorbanan dalam mengambil durian ini langsung dari pohonnya terhitung sangat berat sekali mengingat untuk mengambilnya harus mendaki gunung yang cukup tinggi karena durian tumbuh di dataran yang cukup tinggi. Setelah buahnya terkumpul proses pengangkutan ini yang paling berat karena masih dilakukan secara tradisional yaitu dengan dipikul karena akses jalan menuju kebun durian ini hanya bias dilakukan dengann jalan kaki saja. Jadi untuk memperoleh penghasilan dari buah durian ini tentunya wajib memerlukan pengorbanan dan tenaga ekstra besar.

Selain mengandalkan durian sebagai usaha sampingan beliau juga menggeluti usaha lainnya seperti mencari ikan dilaut pada malam hari dengan menggunakan lampu, parang dan tombak yang dalam bahasa Sumbawa dikenal dengan “NYULU”. Melalui kegiatan nyulu ini Pak Hasanuddin setidaknya mengurangi pengeluaran untuk membeli ikan untuk lauk pauk keluarga, bahkan dengan nyulu pak hasanuddin dapat menambah pendapatan dengan menjual ikan hasil tangkapannya jika mendapat ikan yang cukup banyak setidaknya untuk menambah uang untuk jajan anaknya dan mencukupi kebutuhan keluarga. selain mengandalkan durian dan nyulu beliau juga melakukan pekerjaan tidak tetap seperti buruh tani, mencari emas di pertambangan rakyat dan lain-lainnya.

Dengan melakukan usaha sampingan tersebut Pak Hasanuddin berharap agar kebutuhan keluarganya dapat tercukupi dengan baik. Selain itu adanya usaha sampingan yang dilakukan diharapkan agar dapat menopang usaha utamanya sebagai petani penggarap jika terjadi kekurangan penghasilan pada usaha utamanya tersebut.

D. Kiat-Kiat Yang Dilakukan Guna Mendapatkan Produk Pertanian Yang Baik.

Berdasarkan wawancara yang saya lakukan terhadap pak hasanuddin ada beberapa hal yang dilakukan guna mendapatkan produk pertanian yang baik secara kualitas maupun kuantitas, bahwa tanaman itu harus diperhatikan layaknya anak sendiri banyak hal-hal yang harus diperhatikan guna perkembangan tanaman dapat berlangsung dengan baik. Berikut beberapa hal yang harus diperhatikan agar hal tersebut bisa terwujud :

  1. Kadar Air

Kadar air harus benar-benar diperhatikan agar tanaman pertanian tumbuh dengan baik. Baik padi maupun kacang hijau dalam proses pertumbuhan kadar air mutlak diperlukan. Untuk itu sebagai seorang petani harus pandai-pandai dalam menentukan kadar air jika kurang ataupun berlebihan akan berdampak buruk bagi tanaman pertanian.

  1. Pestisida

Sama halnya dengan air pertisida sangat membantu dalam proses perkembangan tanaman baik dari pertumbuhan batang, akar dan daun sampai proses pembuahan sangat dibantu oleh perstisida, baik itu insektisida, herbisida dan lainnya. Takaran atau dosis yang tepat dan jenis pestisida yang benar akan menghasilkan produk pertanian yang baik. Jangan sampai pestisida yang diberikan jenisnya tidak tepat atau dengan dosis yang berlebihan karena akan berdampak buruk bagi tanaman peranian. Dengan penggunaan pestisida yang tepat hama yang merusak tanaman dapat dibasmi.

  1. Pupuk

Sama halnya dengan pestisida yang merupakan bahan kimia, penggunaan pupuk yang tepat dan dosis yang pas pula akan memngasilkan produk pertanian yang baik. Dalam penggunaan pupuk jangan terlalu menggunakan pupuk kimia buatan pabrik karena pemakaian yang terlalu sering akan membuat unsure hara tanah yang merupakan penyubur tanaman mati. Untuk menjaga kesuburan tanah agar tidak hilang Pak Hasanuddin selalu menggunakan pupuk kandang dari kotoran hewan dan pupuk tanah. Selain itu waktu pemupukan harus tepat sesuai dengan kadar air dan usia tanaman pertanian.

  1. Waktu Penanaman

Untuk mendapatkan hasil yang baik harus memperhatikan waktu penanaman yang tepat. Penanaman yang tepat sebaiknya dilakukan pada awal musim hujan agar selama musim hujan tersebut tanaman mendapatkan cukup air bagi pertumbuhannya. Jangan sampai penanaman dilakukan pada pertengahan atau akhir musim hujan karena berpengaruh pada hasil pertaniannya pula mengingat pada saat-saat itu debit air sungai dan intensitas hujan berkurang.

  1. Bibit

Bibit sangat menentukan baik buruknya hasil pertanian. Untuk mendapatkan hasil pertanian yang baik penggunaan bibit unggul baik padi maupun kacang hijau mutak dilakukan. Bibit unggul yang dimaksud harus mempunyai buah atau biji yang banyak, cepat berbuah, tahan terhadap hama dan cuaca buruk da batang yang cepat berkembang.

  1. Jarak Tanam

Khusus bagi tanaman padi jarang tanam harus benar-benar diperhatikan agar tanaman padi dapat tumbuh dengan baik. Jarak tanaman yang tidak teratur membuat tanaman padi tumbuh tidak seimbang. Terkadang ada yang tinggi dan yang pendek. Itu terjadi apabila tanaman yang satu mengambil unsur hara tanaman lainnya akibat jarak tanam yang tidak teratur dan jarak yang terlalu berdekatan tersebut. Untuk mencegah hal tersebut agar hasil panen padi memuaskan Pak Hasanuddin selalu menggunakan sistem tanam jajar agar jarak antar batang padi teratur.

  1. Hama dan Tanaman penggangu

Selain hal-hal diatas yang terakhir yang tidak kalah pentingnya adalah memperhatikan hama dan tanaman pengganggu. Sebagaimana diketahui bahwa tanaman tidak akan tumbuh dengan baik jika banyak terdapat hama dan tanaman pengganggu. Oleh karena itu penggunaan insektisida dan herbisida haru sesuai dengan jenis hama dan dosis yang pas.

E. Kendala-Kendala Yang Dihadapi

Tidak banyak kendala yang dihadai oleh Pak Hasanuddin dalam kegiatan pertaniaanya kendala yang biasanya paling dominan adalah masalah cuaca, modal, harga jual hasil panen yang rendah dan hama tanaman. Berikut penjelasannya :

  1. Modal

Modal merupakan masalah yang paling utama bagi setiap orang dan tak terkecuali bagi Pak Hasanuddin. Sebagai petani umumnya beliau jarang sekali mempunya tabungan karena penghasilannya sebagi petani hanya cukup untuk kegiatan konsumsi keluarganya. Jadi saat musim tanam datang untuk membiayai kegiatan pengolahannya beliau terkadang berhutang dulu kepada tetangga atau kepada pengusaha pembeli hasil. Selain itu beliau juga menggadaikan emas simpanan keluarganya.

  1. Cuaca

Cuaca yang terkadang tidak menentu membuat petani merugi, gagal panen dan sebagainya seperti kekuarangan air bagi tanaman kcang hijau akibat cuaca yang sering berubah tiap waktu. Hal seperti jarang sekali terjadi namun hal ini pernah terjadi pada tanaman pertanian Pak Hasanuddin.

  1. Harga Jual Hasil Hasil Panen

Terkait masalah harga jual hasil panen ini terkadang membuat petani lesu. Hal tersebut jika harga jual hasil panen rendah. Harga jual yang rendah secara otomatis membuat pendapatan petani dari hasil penjualan hasil panen mereka berkurang. Namun tidak jarang Pak Hasanuddin menyimpan hasil panennya untuk dijual kembali pada saat harga kembali tinggi. Tetapi untuk keperluan mendesak atau untuk membayar hutang Pak Hasanuddin menjual hasil panennya pada saat selesai panen itu juga.

  1. Hama Tanaman

Hama tanaman yang membandel yang sussah dibasmi terkadang membutuhkan biaya ekstra untuk membasminya. Seperti diketahui hama yang membandel dapat merusak tanaman dan mengurangi hasil panen. Untuk itu untuk membasmi hama tersebut terkadang harus mengeluarkan biaya ekstra untuk membeli Pestisida agar hama yang Membandel yang dimaksud dapatt dibasmi.

Dipublikasi di PENELITIAN/KARYA TULIS | Meninggalkan komentar

PENELITIAN PENGENDALIAN HAYATI PADA TANAMAN KENTANG ( Solanum tuberosum L. )

HASIL PENELITIAN

2.1 Tanaman Kentang

2.1.1 Sejarah Singkat

Tanaman kentang berasal dari Amerika Selatan (Peru, Chili, Bolivia, dan Argentina) serta beberapa daerah Amerika Tengah. Di Eropa daratan tanaman itu diperkirakan pertama kali diintroduksi dari Peru dan Colombia melalui Spanyol pada tahun 1570 dan di Inggris pada tahun 1590 (Hawkes, 1990). Penyebaran kentang ke Asia (India, Cina, dan Jepang), sebagian ke Afrika, dan kepulauan Hindia Barat dilakukan oleh orang-orang Inggris pada akhir abad ke-17 dan di daerah-daerah tersebut kentang ditanam secara luas pada pertengahan abad ke-18 (Hawkes, 1992).

Menurut Permadi (1989), saat masuknya tanaman kentang di Indonesia tidak diketahui dengan pasti, tetapi pada tahun 1794 tanaman kentang ditemukan telah ditanam di sekitar Cisarua (Kabupaten Bandung) dan pada tahun 1811 tanaman kentang telah tersebar luas di Indonesia, terutama di daerah-daerah pegunungan di Aceh, Tanah Karo, Sumatera Barat, Bengkulu, Sumatera Selatan, Minahasa, Bali, dan Flores. Di Jawa daerah-daerah pertanaman kentang berpusat di Pangalengan, Lembang, dan Pacet (Jawa Barat), Wonosobo dan Tawangmangu (Jawa Tengah), serta Batu dan Tengger (Jawa Timur).

2.1.2 Jenis Tanaman

Kentang (Solanum tuberosum L) termasuk jenis tanaman sayuran semusim, berumur pendek dan berbentuk perdu/semak. Kentang termasuk tanaman semusim karena hanya satu kali berproduksi, setelah itu mati. Umur tanaman kentang antara 90-180 hari.

Menurut Gembong (1994), kentang (Solanum tuberosum L) diklasifikasikan sebagai berikut:

Divisi  : Spermatophyta

Subdivisi   : Angiospermae

Kelas   : Dicotyledonae

Ordo   : Tubiflorae (Solanales, Personatae)

Famili   : Solanaceae

Genus   : Solanum

Species   : Solanun tuberosum L.

Dari tanaman ini dikenal pula spesies-spesies lain yang merupakan spesies liar, di antaranyaSolanum andigenum L, Solanum anglgenum L, Solanum demissum L dan lain-lain. Varietas kentang yang banyak ditanam di Indonesia adalah kentang kuning varietas Granola, Atlantis, Cipanas dan Segunung .

2.1.3 Manfaat Tanaman

Melihat kandungan gizinya, kentang merupakan sumber utama karbohidrat. Kentang menjadi makanan pokok di banyak negara barat. Zat-zat gizi yang terkandung dalam 100 gram bahan adalah kalori 347 kal, protein 0,3 gram, lemak 0,1 gram, karbohidrat 85,6 gram, kalsium (Ca) 20 gram, fosfor (P) 30 mg, besi (Fe) 0,5 mg dan vitamin B 0,04 mg
2.2 Budidaya Kentang

*  Syarat Pertumbuhan

·  Curah hujan rata-rata 1500 mm/tahun

·  Lama penyinaran 9-10 jam/hari

·  Suhu optimal 18-21 °C

·  Kelembaban 80-90%

·  Ketinggian antara 1.000-3.000 m dpl.

·  (Media Tanam). Struktur remah, gembur, banyak mengandung bahan organik, berdrainase baik dan memiliki lapisan olah yang dalam dan pH antara 5,8-7,0

*  Pembibitan

·  Umbi bibit berasal dari umbi produksi berbobot 30-50 gram, umur 150-180 hari, tidak cacat, dan varitas unggul. Pilih umbi berukuran sedang, memiliki 3-5 mata tunas dan hanya sampai generasi keempat saja. Setelah tunas + 2 cm, siap ditanam.

·  Bila bibit membeli (usahakan bibit yang bersertifikat), berat antara 30-45 gram dengan 3-5 mata tunas. Penanaman dapat dilakukan tanpa/dengan pembelahan. Pemotongan umbi dilakukan menjadi 2-4 potong menurut mata tunas yang ada. Sebelum tanam umbi direndam dulu menggunakan POC NASA selama 1-3 jam (2-4 cc/lt air).

*  Pengolahan Media Tanam

Lahan dibajak sedalam 30-40 cm dan biarkan selama 2 minggu sebelum dibuat bedengan dengan lebar 70 cm (1 jalur tanaman)/140 cm (2 jalur tanaman), tinggi 30 cm dan buat saluran pembuangan air sedalam 50 cm dan lebar 50 cm. Natural Glio yang sudah terlebih dahulu dikembangbiakkan dalam pupuk kandang ± 1 minggu, ditebarkan merata pada bedengan (dosis : 1-2 kemasan Natural Glio dicampur 50-100 kg pupuk kandang/1000 m2).

*  Teknik Penanaman

·  Pemupukan Dasar

a.  Pupuk anorganik berupa urea (200 kg/ha), SP 36 (200 kg/ha), dan KCl (75 kg/ha).

b.  Siramkan pupuk POC NASA yang telah dicampur air secukupnya secara merata di atas bedengan, dosis 1-2 botol/ 1000 m². Hasil akan lebih bagus jika menggunakan SUPER NASA dengan cara : alternatif 1 : 1 botol Super Nasa diencerkan dalam 3 liter air dijadikan larutan induk. Kemudian setiap 50 lt air diberi 200 cc larutan induk tadi untuk menyiram bedengan.alternatif 2 : setiap 1 gembor vol 10 lt diberi 1 peres sendok makan Super Nasa untuk menyiram 10 meter bedengan.  Penyiraman POC NASA / SUPER NASA dilakukan sebelum pemberian pupuk kandang.

c.  Berikan pupuk kandang 5-6 ton/ha (dicampur pada tanah bedengan atau diberikan pada lubang tanam) satu minggu sebelum tanam,

·  Cara Penanaman

Jarak tanaman tergantung varietas, 80 cm x 40 cm atau 70 x 30 cm dengan kebutuhan bibit + 1.300-1.700 kg/ha (bobot umbi 30-45 gr). Waktu tanam diakhir musim hujan (April-Juni).

*  Pemeliharaan Tanaman

·  Penyulaman

Penyulaman untuk mengganti tanaman yang tidak tumbuh/tumbuhnya jelek dilakukan 15 hari semenjak tumbuh.

·  Penyiangan

Penyiangan dilakukan minimal dua kali selama masa penanaman 2-3 hari sebelum/bersamaan dengan pemupukan susulan dan penggemburan.

·  Pemangkasan Bunga

Pada varietas kentang yang berbunga sebaiknya dipangkas untuk mencegah terganggunya proses pembentukan umbi, karena terjadi perebutan unsur hara.

·  Pemupukan Susulan

a.  Pupuk Makro

Urea/ZA : 21 hari setelah tanam (hst) 300 kg/ha dan 45 hst 150 kg/ha. SP-36: 21 hst 250 kg/ha. KCl : 21 hst 150 kg/ha dan 45 hst 75 kg/ha. Pupuk makro diberikan jarak 10 cm dari batang tanaman.

b.  POC NASA : mulai umur 1 minggu s/d 10 atau 11 minggu.

Alternatif I : 8-10 kali (interval 1 minggu sekali dengan dosis 4 tutup/tangki atau 1 botol (500 cc)/ drum 200 lt air.

Alternatif II : 5 – 6 kali (interval 2 mingu sekali dengan dosis 6 tutup/tangki atau 1,5 botol (750 cc)/ drum 200 lt air.

c.  HORMONIK

Penyemprotan POC NASA akan lebih optimal jika dicampur HORMONIK (dosis 1-2 tutup/tangki atau + 2-3 botol/drum 200 liter air).

·  Pengairan

Tanaman kentang sangat peka terhadap kekurangan air. Pengairan harus dilakukan secara rutin tetapi tidak berlebihan. Pemberian air yang cukup membantu menstabilkan kelembaban tanah sebagai pelarut pupuk. Selang waktu 7 hari sekali secara rutin sudah cukup untuk tanaman kentang. Pengairan dilakukan dengan cara disiram dengan gembor/embrat/dengan mengairi selokan sampai areal lembab (sekitar 15-20 menit).

*  Hama dan Penyakit

Hama

·  Lalat pengorok daun kentang (Liriomyza huidobrensis)

·  Ulat grayak (Spodoptera litura)

·  Kutu daun (Aphis Sp)

·  Hama penggerek umbi (Phtorimae poerculella Zael)

·  Hama trip (Thrips tabaci)

Penyakit

·  Penyakit busuk daun

·  Penyakit layu bakteri

·  Penyakit busuk umbi

·  Penyakit fusarium

·  Penyakit bercak kering (Early Blight)

*  Panen dan Cara Panen

Tanaman kentang dipanen pada umur 90 hingga 160 hari setelah tanam (HST).Waktu memanen sangat dianjurkan dilakukan pada waktu sore hari/pagi hari dan dilakukan pada saat hari cerah. Cara memanen yang baik adalah sebagai berikut: cangkul tanah disekitar umbi kemudian angkat umbi dengan hati hati dengan menggunakan garpu tanah. Setelah itu kumpulkan umbi ditempat yang teduh. Hindari kerusakan mekanis waktu panen.

*  Pascapanen

·  Penyortiran dan Pengolongan

Umbi yang baik dan sehat dipisahkan dengan umbi yang cacat dan terkena penyakit. Kegiatan ini akan mencegah penularan penyakit kepada umbi yang sehat. Kentang di sortir berdasarkan ukuran umbi (tergantung varitas).

·  Penyimpanan

Simpan umbi kentang dalam rak-rak yang tersusun rapi, sebaiknya ruangan tempat penyimpanan dibersihkan dan disterilisasi dahulu agar terbebas dari bakteri. Simpan di tempat yang tertutup dan berventilasi.

·  Pengemasan dan Pengangkutan

Alat pengemas harus bersih dan terbuat dari bahan yang ringan. Pengemas harus berventilasi dan di bagian dasar dan tepi diberi bahan yang mengurangi benturan selama pengangkutan.

·  Pembersihan

Petani konvensional hampir tidak pernah membersihkan umbi. Untuk memasarkan kentang di pasar swalayan/ke luar negeri, kentang harus dibersihkan terlebih dulu. Bersihkan umbi dari segala kotoran yang menempel dengan lap. Lakukan perlahan-lahan jangan sampai menimbulkan lecet-lecet. Selain itu umbi dapat dibersihkan dengan cara dicuci di air mengalir yang tidak terlalu deras kemudian dikeringanginkan. Umbi yang bersih akan memperpanjang keawetan umbi selain itu juga akan menarik konsumen.

2.3 Pengendalian Hayati

Secara umum pengertian pengendalian hama secara biologi/hayati adalah penggunaan makhluk hidup untuk membatasi populasi organisme pengganggu tumbuhan (OPT). Makhluk hidup dalam kelompok ini diistilahkan juga sebagai organisme yang berguna yang dikenal juga sebagai musuh alami, seperti predator, parasitoid, patogen.

Pengendalian hayati sangat dilatarbelakangi oleh berbagai pengetahuan dasar ekologi, terutama teori tentang pengaturan populasi oleh pengendali alami dan keseimbangan ekosistem. Pengendalian hayati merupakan komponen yang penting dari program pengendalian hama terpadu (PHT)

Tiga pendekatan dalam pengendalian hayati adalah importasi atau yang disebut pula dengan sebutan pengendalian hayati klasik, augmentasi, dan konservasi.

1. Pendekatan importasi

Melibatkan introduksi musuh alami (pemangsa, parasitoid, dan patogen) eksotik, dan umumnya digunakan untuk melawan hama eksotik pula. Pendekatannya didasarkan pada pemahaman bahwa makhluk hidup yang tidak disertai dengan musuh alami asli akan lebih bugar (fit) dan akan lebih melimpah dan lebih mampu bersaing daripada yang menjadi subjek pengendalian alami. Untuk mengendalikannya perlu dicarikan musuh alami yang efektif di tempat asalnya.

Introduksi (mendatangkan/mengimpor) musuh-musuh alami dari luar negeri/daerah lain untuk dilepaskan didaerah baru. Introduksi dapat ditempuh apabila hama yang menyerang suatu tanaman pada umumnya menimbulkan eksplosi dan diketahui hama tersebut bukan merupakan hama asli daerah tersebut. Contohnya : import predator Curinus coerulens dari Hawai untuk mengendalikan kutu loncat lamtoro.

2. Praktek augmentasi

Didasarkan pada pengetahuan atau asumsi bahwa pada beberapa situasi jumlah individu atau jenis musuh alami tidak cukup memadai untuk mengendalikan hama secara optimal. Oleh karena itu, untuk meningkatkan efektivitas pengendalian hama, jumlah musuh alami perlu ditambah melalui pelepasan secara periodik. Ada dua pendekatan augmentasi, yaitu inokulasi sejumlah kecil musuh alami dan inundasi (membanjiri) dengan jumlah yang besar, tergantung pada tujuannya.

Inokulasi, yaitu pelepasan musuh alami dalam jumlah relatif sedikit dengan harapan pada generasi selanjutnya akan menekan populasi hama dan musuh alami tersebut relatif menetap lebih lama.

Inundasi, yaitu pelepasan musuh alami dalam jumlah besar (hasil pembiakan missal di laboratorium) dengan tujuan secara cepat menekan populasi hama, sehingga populasi hama dapat analog dengan aplikasi insektisida biologis. Karena inundasi lebih bersifat sesaat, maka pada satu musim tanam sering kali perlu dilakukan beberapa kali pelepasan. Selain itu, De Bach dan Hagen (1964) dalam Anonim (1997) menjelaskan bahwa pengendalian secara augmentasi (khususnya inundasi) dapat dilakukan apabila terjadi masalah hama dengan kriteria sebagai berikut :

–  Terdapat musuh alami yang berpotensi menekan hama tetapi tidak efektif, karena kondisi lingkungan tidak mendukung.

–  Hama tidak mudah dikendalikan atau terlalu mahal apabila dikendalikan dengan metode lain.

–  Metode lain tidak dikehendaki karena beberapa alasan seperti residu pestisida, resistensi hama atau akan timbulnya hama sekunder.

–  Hanya satu atau dua jenis hama yang selalu menimbulkan kerugian dan memerlukan pengendalian.

3. Pengendalian hayati konservasi

Pada dasarnya adalah melindungi, memelihara, dan meningkatkan efektivitas populasi musuh alami yang sudah ada di suatu habitat. Konservasi merupakan pendekatan paling penting jika kita ingin memelihara populasi musuh alami, baik asli maupun eksotik, di dalam ekosistem pertanian.

Agen Hayati

Merupakan organisme yang bertindak sebagai musuh alami dalam melakukan pengendalian terhadap organisme pengganggu tanaman atau organisme yang bersifat antagonis terhadap organisme pengganggu tanaman. Dan dapat merusak, mengganggu kehidupan atau menyebabkan Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) sakit atau mati. Agen Hayati dapat berupa predator, parasitoid, patogen dan agens antagonis.

·  Predator

Adalah binatang yang memburu dan memakan atau menghisap cairan tubuh mangsanya. Contoh :Lycosa pseudoannulata (laba-laba).

·  Parasitoid

Adalah serangga yang hidup sebagai parasit pada atau di dalam serangga lainnya (serangga inang) hanya selama masa pra dewasa (masa larva). Imago hidup bebas bukan sebagai parasit dan hidup dari memakan nektar, embun madu, air dan lain-lain. Contoh : Diadegma semiclausum (parasitoid terhadap ulat daun kubis).

·  Patogen

Adalah mikroorganisme yang menyebabkan infeksi dan menimbulkan penyakit terhadap OPT. Secara spesifik mikroorganisme yang dapat menimbulkan penyakit pada serangga disebut mikroorganisme entomopatogen, yang terdiri dari cendawan, bakteri dan virus.

·  Agens Antagonis

Adalah mikroorganisme yang mengintervensi/menghambat pertumbuhan patogen penyebab penyakit pada tumbuhan.

Keuntungan Agen Hayati

  1. Efisiensi tinggi dan tidak memerlukan pengetahuan dan keterampilan khusus dalam pembuatan agens hayati.
  2. Selektifitas yang tinggi, agens hayati hanya membunuh OPT dan tidak membunuh organisme non OPT ataupun musuh alami. Dengan demikian tidak akan terjadi resurgensi atau ledakan OPT sekunder.
  3. Agens Hayati yang digunakan sudah ada di alam, dapat mencari dan menemukan hama dan penyakit.
  4. Dapat berkembang biak dan menyebar.
  5. Hama dan penyakit tidak menjadi resisten.
  6. Tidak ada pengaruh sampingan yang buruk.
  7. Pengendalian dapat berjalan dengan sendirinya dan berkelanjutan.

Faktor-faktor yang mempengaruhi dalam pengendalian hayati

  1. Lingkungan
  2. Kemampuan musuh alami bertahan hidup pada suatu lingkungan.
  3. Tingkat perkembangan musuh alami

Keuntungan pengendalian hayati (Steka, 1975 dalam Mudjiono, 1994) :

1.  Selektifitasnya tinggi dan tidak dapat menimbulkan ledakan hama baru dan resurgensi hama.

2.  Faktor pengendali (agens) yang digunakan tersedia dilapang.

3.  Agens hayati (parasitoid dan predator) dapat mencari sendiri inang atau mangsanya.

4.  Agens hayati (parasitoid, predator, dan pathogen) dapat berkembangbiak dan menyebar.

5.  Tidak menimbulkan resistensi terhadap serangga inang/mangsa ataupun kalau terjadi, sangat lambat.

6.  Pengendalian ini dapat berjalan dengan sendirinya karena sifat agens hayati tersebut.

7.  Tidak ada pengaruh samping yang buruk seperti pada penggunaan pestisida.

  1. Ramah lingkungan (tidak merusak ekosistem pada suatu lingkungan pertanian)
  2. Efisiensi tenaga dan biaya

Kelemahan pengendalian hayati (Steka, 1975 dalam Mudjiono, 1994) :

1.  Pengendalian terhadap OPT berjalan lambat.

2.  Hasilnya tidak dapat diramalkan.

3.  Sukar untuk pengembangan dan penggunaannya.

4.  Dalam pelaksanaannya pengendalian hayati memerlukan pengawasan untuk mengetahui tingkat keberhasilannya. Pengembangan pengendalian hayati perlu dilakukan pengawalan dengan :

–  Teknologi aplikasi yang tepat agar keberhasilannya dapat terlihat dengan nyata.

–  Modifikasi lingkungan untuk meningkatkan efektifitas agens pengendali.

Dengan melihat kelebihan tersebut, maka pengendalian hayati mempunyai prospek yang baik untuk dikembangkan dalam menanggulangi OPT, yang sesuai dengan prinsip-prinsip PHT. Dengan diterapkannya pengendalian hayati diharapkan diperoleh produk pertanian yang aman bagi konsumen dalam kaitannya dengan residu pestisida, terutama bagi produk yang berorientasi ekspor, disamping aman bagi lingkungan.

2.4  Penerapan Pengendalian Hayati Sebagai Salah Satu Komponen Penting Dari Pengendalian Hama Terpadu (PHT)

·  Lalat pengorok daun kentang (Liriomyza huidobrensis)

Gejala serangan : Daun yang terserang memperlihatkan gejala bintik-bintik putih akibat tusukan ovipositor, dan berupa liang korokan larva yang berkelok-kelok. Serangan berat dapat mengakibatkan hampir seluruh helaian daun penuh dengan korokan, sehingga daun menjadi kering dan berwarna coklat seperti terbakar atau mirip gejala busuk daun.

Pengendalian :

1.  Kultur teknis

Cara ini dilakukan dengan menerapkan budidaya tanaman sehat yang meliputi :

–  Penggunaan varietas yang tahan

–  Sanitasi yaitu dengan membersihkan gulma

–  Pemupukan berimbang

–  Menimbun bagian-bagian tanaman yang terserang

2.  Mekanis

–  Pemangkasan daun-daun yang terserang dan daun bagian bawah yang telah tua.

–  Larva dikumpulkan dari sekitar tanaman yang rusak kemudian dimusnahkan.

–  Pemasangan yellow sticky trap dengan membentangkan kain kuning (lebar 0,9 m x panjang sesuai kebutuhan atau 7 m, untuk setiap lima bedengan memanjang) berperekat di atas tajuk tanaman kentang (Baso et al. 2000). Goyangkan pada tanaman membuat lalat dewasa beterbangan dan terperangkap pada kain kuning.

–  Pengendalian hayati dengan parasitoid hanya mungkin berhasil bila disertai upaya pengurangan penggunaan insektisida.

3.  Biologis (Pengendalian Hayati)

Dengan memanfaatkan musuh alami. Musuh alami yang dapat digunakan untuk mengendalikan hama penggorok daun pada kentanng antara lain:

a.  Hemiptarsenus varicorni

H. varicornis (Hymenoptera : Eulophidae) merupakan parasitoid penting pada hama Liriomyzahuidobrensis. Parasitoid tersebut dapat di temukan di seluruh areal pertanaman kentang yang terserang L. huidobrensis. Tingkat parasitasi H. varicornis terhadap L. huidobrensis pada tanaman kentang adalah 37,33%. Nisbah kelamin antara jantan dan betina adalah 1,5 : 1 (Setiawati dan Suprihatno, 2000). Siklus hidup H. varicornis berkisar antara 12-16 hari. Masa telur, larva dan pupa masing-masing 1-2 hari, 5-6 hari, dan 6-8 hari. Masa hidup betina berkisar antara 88-22 hari. Satu ekor betina mampu menghasilkan telur sebanyak 24-42 butir (Hindrayani dan Rauf, 2002. dalam A.S. Duriat et al. 2006).

H. varicornis merupakan parasitoid yang memiliki potensi besar sebagai pengendali hayati untuk mengendalikan hama pengorok daun Liriomyza di Indonesia, karena disamping pertimbangan faktor fekunditas dan lama hidup imago betinanya, juga merupakan parasitoid lokal yang sudah beradaptasi di wilayah Indonesia. Pemanfaatan parasitoid ini dilakukan dengan cara konservasi melalui pengaturan pola tanam dan aplikasi teknologi pertanian ramah lingkungan.

Dengan memperhatikan data tersebut di atas, maka dapat dilakukan upaya konservasi H. varicornis di lapangan untuk mengendalikan pengorok daun Liriomyza spp. melalui manipulasi lingkungan (tritropic levels) dengan memadukan antara pengaturan pola tanam dan penerapan teknologi pertanian ramah lingkungan, yaitu:

1. Pengaturan pola tanam, dengan pilihan sebagai berikut:

–  Menanam tanaman kacang merah (red bean) atau buncis (snap bean) sebagai tanaman perangkap Liromyza sekaligus tempat berkembang biaknya parasitoid H. varicornis pada pematang atau pinggiran kebun, yang sebaiknya ditanam lebih awal sebelum tanaman pokoknya.

–  Menanam tanaman pada awal musim tanaman yang jika terserang Liriomyza spp. tidak mengakibatkan kerugian secara ekonomis, karena menyerang daun yang sudah tua seperti brokoli atau kubis, kemudian pada musim tanam kedua menanam kentang atau bawang daun yang ditumpangsarikan dengan kacang merah atau buncis.

–  Melakukan sistem pola tanam tumpang sari antara kacang merah dengan kentang, buncis dengan bawang daun, buncis dengan kubis, dan lain-lain.

2. Menerapkan teknologi pertanian ramah lingkungan (organik) sehingga populasi parasitoid di lapangan tidak terganggu. Adapun teknologi pertanian ramah lingkungan yang dapat dilakukan dalam budidaya tanaman sayuran dan tanaman hias antara lain: penggunaan pupuk organik baik yang sudah menjadi kompos ataupun dalam bentuk pupuk kandang, penggunaan pestisida botani dengan memanfaatkan ekstrak bagian dari tumbuhan untuk mengendalikan organisme pengganggu tanaman.

b) Opius sp.

Opius sp. merupakan parasitoid penting hama L. huidobrensis. Telur berbentuk lonjong, dengan salah satu bagian ujungnya sedikit lebih membengkak dibandingkan dengan ujung yang lain. Siklus hidupnya berkisar antara 13-59 hari. Masa telur, larva dan pupa masing-masing 2, 6, dan 6 hari. Satu ekor betina mampu menghasilkan telur sebanyak 49-187 butir. Instar yang paling cocok untuk perkembangan parasitoid Opius sp., adalah instar ke-3. Pada instar tersebut masa perkembangan parasitoid lebih singkat dan keturunan yang dihasilkan lebih banyak dengan proposi betina yang lebih tinggi. Nisbah kelamin jantan dan betina adalah 1:1 (Rustam et a.l, 2002. dalam A.S. Duriat et al., 2006).

Berdasarkan Keputusan Menteri Pertanian No.: 698/kpts/tp.120/8/1998 Tentang Izin Pemasukan Beberapa Jenis Parasitoid Dari Hawaii Ke Dalam Wilayah Negara Republik Indonesia. Memberikan izin kepada Pusat Kajian Pengendalian Hama Terpadu, Institut Pertanian Bogor untuk memasukkan 5 (lima) jenis parasitoid dari Hawaii untuk mengendalikan hamaLiriomyza huidobrensis melalui Bandar Udara Soekarno – Hatta, Jakarta.

Jenis-jenis parasitoid dimaksud adalah sebagai berikut :

1.  Diglyphus-begini, ektoparasitoid larva;

2.  Diglyphus-intermedius, ektoparasitoid larva;

3.  Chrysocaris-oscinidus, endoparasitoid larva-pupa;

4.  Ganaspidium-utilis, endoparasitoid larva-pupa; dan

5.  Halticoptera-circulus, endoparasitoid larva-pupa.

4.  Kimia

Apabila cara lain tidak dapat menekan populasi hama, digunakan insektisida yang efektif, terdaftar dan diizinkan Menteri Pertanian seperti insektisida Neem azal T/S Azadirachtin 1 % (Baso et al., 2000 dalam A.S Duriat et al., 2006) atau Trigad 75 WP, Agrimec 18 EC (Novartis, 1998 dalam A.S. Duriat et al., 2006).

Insektisida untuk mengendalikan hama ini, dengan Frekuensi aplikasi dua kali per minggu. Insektisida yang paling banyak digunakan adalah dari golongan piretroid dan organofosfat.

·  Kutu daun (Aphis Sp)

Gejala: kutu daun menghisap cairan dan menginfeksi tanaman, juga dapat menularkan virus bagi tanaman kentang.

Pengendalian :

1.  Secara bercocok tanam/kultur teknis, meliputi cara-cara yang mengarah pada budidaya tanaman sehat yaitu : terpenuhinya persyaratan tumbuh (suhu, curah hujan, angin, ketinggian tempat, tanah), pengaturan jarak tanam, pemupukuan, dan pengamatan pada kanopi tunas seluas 0,25 m2. Hitung serangga dewasa yang ada setiap 2 minggu.

  1. Mekanis dan fisik, dilakukan dengan membersihkan kebun/ sanitasi terhadap gulma atau dengan menggunakan mulsa jerami di bedengan pembibitan kentang, serta membunuh langsung serangga yang ditemukan.
  2. Biologi, dengan memanfaatkan musuh alami predator dari famili Syrphidae, Menochillus sp., Scymnus sp. (Coccinelidae), Crysophidae, Lycosidae dan parasitoid Aphis sp.
  3. Kimiawi, dengan menggunakan insektisida selektif dan efektif sesuai rekomendasi, dilakukan secara spot spray pada tunas bila tunas terserang 25 %.

·  Ulat Grayak (Spodoptera litura F.)

Gejala serangan : larva yang masih kecil merusak daun yang menyerang secara serentak berkelompok. Dengan meninggalkan sisa-sisa epidermis bagian atas, transparan dan tinggal tulang-tulang daun saja. Biasanya larva berada di permukaan bawah daun, umumnya terjadi pada musim kemarau.

Pengendalian :

1.  Kultur teknis

–  Pembakaran tanaman

–  Pengolahan tanah yang intensif.

2.  Pengendalian fisik / mekanis

–  Mengumpulkan larva atau pupa dan bagian tanaman yang terserang kemudian memusnahkannya.

–  Penggunaan perangkap feromonoid seks untuk ngengat sebanyak 40 buah per hektar atau 2 buah per 500 m2 dipasang di tengah tanaman sejak tanaman berumur 2 minggu.

3.  Pengendalian Hayati

Pemanfaatan musuh alami seperti : patogen SI-NPV (Spodoptera litura- Nuclear Polyhedrosis Virus),Cendawan Cordisep, Aspergillus flavus, Beauveria bassina, Nomuarea rileyi, dan Metarhizium anisopliae, bakteri Bacillus thuringensis, nematoda Steinernema sp,. Predator Sycanus sp,. Andrallus spinideus, Selonepnis geminada,  parasitoid Apanteles sp., Telenomus spodopterae, Microplistis similis, dan Peribeae sp.

4.  Pengendalian Kimiawi

Beberapa insektisida yang dianggap cukup efektif adalah monokrotofos, diazinon, khlorpirifos, triazofos, dikhlorovos, sianofenfos, dan karbaril.

·  Hama trip ( Thrips tabaci )

Gejala: pada daun terdapat bercak-bercak berwarna putih, selanjutnya berubah menjadi abu-abu perak dan kemudian mengering. Serangan dimulai dari ujung-ujung daun yang masih muda.

Pengendalian:

1.  Pengendalian secara bercocok tanam, penyiraman tanaman kentang terserang, pada siang hari untuk menurunkan suhu di sekitar pertanaman dan menghilangkan nimfa trips yang menempel pada daun.

2.  Pengendalian fisik, dengan cara pemasangan perangkap berwarna kuning berperekat sebanyak 80 – 100 per hektar.

3.  Pengendalian biologi, memanfaatkan musuh alami trips yaitu predator kumbang macan Coccinellidae.

4.  Pengendalian kimia, dengan menggunakan insektisida yang diizinkan oleh Menteri Pertanian yaitu Basudin 60 EC, Mitac 200 EC, Diazenon, Bayrusil 25 EC atau Dicarzol 25 SP.

Penyakit

·  Penyakit busuk daun

Penyebab: jamur Phytopthora infestans. Gejala: timbul bercak-bercak kecil berwarna hijau kelabu dan agak basah, lalu bercak-bercak ini akan berkembang dan warnanya berubah menjadi coklat sampai hitam dengan bagian tepi berwarna putih yang merupakan sporangium. Selanjutnya daun akan membusuk dan mati.

Pengendalian yang bisa dilakukan adalah:

  1. Kultur teknis, menanan varietas tahan, penggunaan benih sehat atau tidak menggunakan benih dari pertanaman yang terserang.
  2. Mekanis/Fisik, pembersihan tanaman yang terserang dan dimusnahkan.
  3. Pengendalian secara biologi/hayati menggunakan agen hayati cendawan Trichoderma sp atau Gliocladium sp dengan dosis penyemprotan 100 gr/10 liter air, ditambah dengan zat perekat.
  4. Pengendalian secara kimiawi dengan penyemprotan fungisida berbahan aktif Ziflo 90 WP dengan konsentrasi 2-4 g/l air

·  Penyakit fusarium

Penyebab: jamur Fusarium sp. Gejala: infeksi pada umbi menyebabkan busuk umbi yang menyebabkan tanaman layu. Penyakit ini juga menyerang kentang di gudang penyimpanan. Infeksi masuk melalui luka-luka yang disebabkan nematoda/faktor mekanis.

Pengendalian :

1.  Pengendalian secara bercocok tanam, dengan menanam benih sehat.

2.  Pengendalian fisik/mekanik, dengan melakukan eradikasi selektif terhadap tanaman yang terserang dan memusnahkannya, menghindari pelukaan umbi saat tanam atau saat panen.

3.  Pengendalian biologi, dengan menggunakan agens hayati Gliocladium sp dalam kompos, yang diberikan dalam lubang tanam pada saat penanaman.

Menggunakan cendawan antagonis Trichoderma spp., sifat antagonis Cendawan Trichoderma spp. telah diteliti sejak lama. Inokulasi Trichoderma spp. ke dalam tanah dapat menekan serangan penyakit layu fusarium yang menyerang tanaman tomat atau cabe, hal ini disebabkan oleh adanya pengaruh toksin yang dihasilkan cendawan ini.

Menurut Harman (1998) dalam Gultom (2008), mekanisme utama pengendalian patogen tanaman yang bersifat tular tanah dengan menggunakan cendawan Trichoderma spp.. dapat terjadi melalui :

a.  Mikoparasit (memarasit miselium cendawan lain dengan menembus dinding sel dan masuk kedalam sel untuk mengambil zat makanan dari dalam sel sehingga cendawan patogen  akan mati).

b.  Menghasilkan antibiotik seperti alametichin, paracelsin, trichotoxin yang
dapat menghancurkan sel cendawan melalui pengrusakan terhadap permeabilitas membran sel, dan enzim chitinase, laminarinase yang dapat menyebabkan lisis dinding sel.

c.  Mempunyai kemampuan berkompetisi memperebutkan tempat hidup dan
sumber makanan.

4.  Pengendalian kimia, dengan menggunakan fungisida yang telah diizinkan oleh Menteri Pertanian yaitu Benlate.

·  Penyakit busuk umbi (Jamur Colleotrichum coccodes)

Gejala : Daun menguning dan menggulung, lalu layu dan kering. Pada bagian tanaman yang berada dalam tanah terdapat bercak-bercak berwarna coklat. Infeksi akan menyebabkan akar dan umbi muda busuk.

Pengendalian :

1.  Kultur teknis

–  dengan pergiliran tanaman.

–  Penggunaan benih sehat,

–  Untuk mencegah terbawanya jamur oleh biji dapat dilakukan disinfestasi benih.

2.  Pengendalian fisik / mekanis

Mengeradikasi tanaman terserang dengan cara dicabut dan dimusnahkan.

3.  Pengendalian kimiawi

Apabila kerusakan tanaman > 25 %, dapat diaplikasikan fungisida efektif, terdaftar dan diizinkan Menteri Pertanian

Dipublikasi di PENELITIAN/KARYA TULIS | Meninggalkan komentar

Budidaya Jeruk

Karya Tulis Pertanian

Latar Belakang

Di Indonesia jeruk merupakan komoditas buah – buahan terpenting ketiga setelah pisang dan mangga, bila dilihat dari luas pertanian dan jumlah produksi pertahun (soelarso,1996). Menurut biro pusat statistik produksi jeruk di Indonesia pada tahun 1991 sebesar 353,01 ton, dengan jumlah penduduk 180 juta jiwa, maka untuk mencapai sasaran tingkat konsumsi sebesar 3,26 kg per kapita pertahun diperlukan buah jeruk sebanyak 745,676 ton dengan asumsi 30 persen buah rusak selama pasca panen. Dengan demikian, produksi jeruk di indonesia belum mencukupi kebutuhan konsumsi jeruk dalam negeri.

Hasil produksi buah jeruk oleh para petani diusahakan untuk dapat memaski pasar. Kegiatan pemasaran buah jeruk memerlukan strategi yang tepat agar dapat memenuhi harapan baik dari segi harga maupun jumlah buah jeruk yang dimasukkan kepasar. Pda umumnya masalah tidak sesuainya harga jual buah jeruk ke konsumen atau ke pasar adalah kendala yang selalu dihadapi para petani. Disamping masalah harga, jumlah buah yang ditawarkan tidak sesuai dengan kebutuhan pasar. Akibat adanya permasalahan tersebut maka tentunya petani buah jeruk dirugikan.

Metode penelitian

  1. Tempat Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di Desa Karangcengis, Kecamatan Bukateja, Kabupaten Purbalingga, dengan pertimbangan sebagai berikut :

  1. Daerah tersebut mayoritas penduduknya (sekitar 40 persen) bermatapencaharian sebagai petani jeruk.
  2. Daerah tersebut mudah dijangkau dan dekat dengan tempat tinggal peneliti.
  3. Waktu Penelitian

Pengumpulan data ini berlangsung seama satu bulan mulai dari tanggal 6 Desember 2002 – 6 Januari 2003. Adapun pelaksanaan penelitian dilakukan selama 8 bulan yakni dari Desember 2002 – Agustus 2003.

Teknik Penentuan Responden

Dalam penelitain ini diterapkan metode survei, dimana peneliti mencoba mencoba meninjau langsung ke lapangan atau objek penelitian, dan mengamati serta mencatat semua permasalahan yang ada. Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan metode purposive/simpel random sampling (Soekartawi, 1995) tanpa memperhatikan strata yang ada dalam populasi itu, hal ini dilakukan karena populasi yang ada homogen, yaitu persamaan akan jenis komoditas dagang dan tempat pemasaran.

Dari populasi petani di Desa Karangcengis, Kecamatan Bukateja, Kabupaten Purbalingga, diambil sebanyak 10 responden. Jumlah sampel ini diambil dengan cara menurut Hary King (Sugiyono, 2000), yaitu mengatakan bahwajumlah sampel yang diambil adalah 58 persen dari total populasi yang ada, yaitu sebesar 10 pedagang jeruk dari 18 pedagang. Komposisi sifat/karakteristik sampel pedagang adalah terdiri dari 6 pedagang kecil dan 4 pedagang besar.

  1. Jenis dan Teknik Pengumpulan Data

Pengumpulan data dilakukan dengan cara wawancara dan observasi.

  1. Wawancara yaitu metode pengumpulan data dengan melakukan tanya jawab langsung kepada petani dan pedagang.
  2. Observasi yaitu metode pengumpulan data dengan mengadakan pengamatan langsung.

Adapun data yang dibutuhkan adalah :

  1. Data primer

Data primer diperoleh dari pengamatan secara langsung dilapangan dan juga dari hasil wawancara dengan para petani dan pedagang di Desa Karangcengis, Kecamatan Bukateja, Kabupaten Purbalingga.

  1. Data sekunder

Data yang diperoleh dari daftar pustaka yang mendukung data primer, dan dari balai desa karangcengis serta data dari dinas pertanian setempat, yang terkait dengan permasalahan penelitian.

  1. Teknik Analisis data

Setelah data terkumpul, langkah selanjutnya adalah menganalisis data. Data penelitian ini digunakan teknik analisis data kualitatif dan kuantitatif. Cara analisis ini merupakan langkah penganalisaan data dengan menggunakan penalaran – penalaran. Penalaran ini berdasarkan teori yang berhubungan dengan masalah. Dengan analisis ini digambarkan keadaan yang sebenarnya dari obyek yang diteliti. Data yang terkumpul akan dimasukkan ke dalam tabel – tabel dan diolah dengan menghitung jumlah presentasenya, kemudian diinterpretasikan dan diambul kesimpulan.

Perhitungan efektivitas pemasaran yang akan diketahui dalam penelitian ini menggunakan rumus sederhana (Soekartawi, 1989) :

x 100%

Hasil dan Pembahasan

  1. Karakteristik Petani Jeruk

Responden sebagai sumber memperoeh data dan informasi dalam penelitian ini adalah para petani jeruk bersama pedagang jeruk yang mempunyai wilayah pemasaran di Desa Karangcengis. Karakteristik para petani jeruk berbeda – beda, baik ditinjau dari segi umur, pendidikan, jumlah tanggungan keluarga, luas lahan yang dimiliki. Informasi tentang karakteristik petani jeruk perlu untuk dapat menggambarkan keadaan para petani jeruk tersebut.

Tabel 1Karakteristik Petani Jeruk di Desa Karangcengis tahun 2003.

No Kelompok Umur Jumlah Responden (jiwa) Presentase
1.2.3.

4.

< 30 Tahun30 – 45 Tahun56 – 60 Tahun

Ø  60 Tahun

-54

1

-5040

10

Jumlah 10 100

Sumber : data primer yang diolah, 2002.

Desa Karangcengis merupakan salah satu sentra produksi jeruk, dimana mayoritas petani adalah petani buah jeruk dan sebagian besar berusia tergoong produktif yaitu antara 30 – 45 tahun dengan tingkat presentase sebesar 50 persen. Sedangkan sisanya yaitu yang berusia antara 56 – 60 tahun (4 orang) dan 60 tahun keatas (1 orang).

Dengan mengamati distribusi umur petani jeruk yang diwawancarai maka rata – rata petani sudah mempunyai pengalama yang bermanfaatdalam mendukung pengeolaan usahatani jeruk. Kenyataan tersebut juga berkaitan dengan informasi yang menyatakan bahwa 80 persen petani jeruk mempunyai pengalaman bertani jeruk selama lebuh dari 10 tahun.

  1. Efektivitas pemasaran buah jeruk di desa karangcengis

Untuk menilai efektif atau tidaknya kegiatan pemasaran yang dilakukan oleh pihak lembaga pemasaran, dapat dilihat melalui proses pemasaran yaitu mengalirnya barang dan jasa dari produsen ke konsumen. Efektivitas adalah presentase pembanding antara biaya pemasaran dan nilai produk yang ditawarkan.

Pemasaran jeruk di Desa Karangcengis akan efisien pada saat biaya pemasaran buah jeruk dapat dikurangi, dan perbandingan tingkat presentase yang dibayar produsen dan konsumen tidak terlalu tinggi. Harga jeruk yang relatif stabil tentunya dapat mengakibatkan efisiensi pemasaran tidak rendah.

Adapun rincian biaya – biaya pemasaran dari kegiatan para pelaku pasar di desa karangcengis dapat dilihat pada Tabel :

Tabel 2Jumlah biaya Pemasaran di Setiap Lembaga Pemasaran Buah Jeruk di Desa Karangcengis.

Lembaga Pemasaran Jenis Biaya Pemasaran Biaya (Rp) Produksi
Petani 1.      Penyortiran/pengepakan/pengemasan2.      Transportasi (dari tempat petani ke pasar)3.      Tenaga kerja (rata-rata sebanyak 3 orang) (@Rp. 16.500/hari) —50.000 5 Ton
Pedagang pengumpul 1.      Penyortiran/pengepakan/pengemasan2.      Transportasi (dari luar purbalingga ke purbalingga dan dari purbalingga ke luar purbalingga)3.      Tenaga kerja (rata-rata 5 orang)  (@ Rp. 50.000/angkutan) 250.000350.000250.000 2 Ton
Pedagang Pengecer 1.      Sewa tempat (untuk tempat berjualan)2.      Transportasi (dari tempat petani/pedagang pengumpul)3.      Risiko kehilangan/terbuangnya buah yang tidak layak jual 50.00020.000

30.000

50 Kg

Sumber : data Primer yang diolah, 2002.

Setelah mengetahui biaya – biaya pemasaran disetiap pelaku pasar, maka kemudian kita dapat mengetahui niai efektivitas dari biaya biaya pemasaran tersebut dengan menghitung sebagai berikut :

x 100%

  1. x 100% = 0,4 % (petani) / (Rp. 3.000/Kg)
  2. x 100% = 1,68 % (pedagang pengumpul) / (Rp. 3.500/Kg)
  3. x 100% = 50% (pedagang pengecer) / (Rp. 4.000/Kg)

Dari perhitungan diatas, terlihat bahwa dari tiga lembaga pemasaran tersebut, petani mempunyai tingkat efektivitas yang tinggi dibandingkan dengan lembaga – lembaga pemasaran lainnya. Keadaan ini disebabkan petani dapat menghindari biaya – biaya pemasaran yang lebih besar daripada lembaga pemasaran lainnya. Selisih yang relatif banyak adalah menunjukkan adanya pemanfaatan potensi yang dari masing – masing lembaga pemasaran.

Pedagang pengecer belum mampu untuk memaksimalkan keuntungan yang mereka peroleh. Perbandingan antara petani dimana nilai efektivitasnya berjumlah 0,4 persen, pedagang pengumpul 1,68 persen dan pedagang pengecer sebesar 50 persen, menunjukkan adanya perbedaan tingkat efektivitas. Petani adalah pihak/pelaku pasar buah jeruk yang paling efektif dibandingkan dengan lembaga pemasaran lainnya. Keadaan ini mengartikan bahwa petani telah mampu memanfaatkan potensi pemasaran yang ada secara maksimal.

  1. Permasalahan yang dihadapi para petani dan pedagang jeruk di Desa Karangcengis

Pelaksanaan kegiatan pemasaran buah jeruk di desa karangcengis tidak terlepas dari adanya permasalahan yang dapat mengurangi harapan para petani dan pedagang jeruk tersebut. Adapun rincian dari permasalahan dua lembaga pemasaran buah jeruk di desa karangcengis ini, dapat dilihat pada tabel :

Tabel 3. Permasalahan Yang Dihadapi Petani

No. Jenis Masalah Jumlah Responden (Orang) Presentase
  1.2.3.

4.

5.

Harga jual yang relatif rendahJumlah produksi yang kurang sesuaiKemampuan yang terbatas dalam pemanfaatan sarana transportasi.

Informasi pasar yang kurang maksimal

Modal yang relatif terbatas

331

1

2

303010

10

20

10 100

Sumber : Data primer yang diolah, 2002.

Salah satu proses dari kegiatan pemasaran adalah penentuan harga jual produk/barang/jasa yang ditawarkan. Para petani jeruk di Desa Karangcengis juga mempunyai tahapan seperti itu , dan hal inilah yang sesua dengan pengorbanan yang telah mereka keluarkan, sementara belum bisa mendapatkan hasil yang maksimal. Harga yang ditawarkan oeh para pedagang pengumpul sampai ke konsumen masih reatif rendah. Keadaan iniseharusnya petani mempunyai posisi tawar yang bagus, dengan mempertahankan nilai produknya sendiri. Namun sikap tersebut sulit dilakukan karena produk yang ditawarkan juga mempunyai sifat fisik yang mudah rusak/ busuk, sehingga nantinya tidak mempunyai nilai. Disinilah seharusnya pemerintah harus ikut mambantu para petani agar dapat mendapatkan harga jual yang layak. Perannya dapat dengan melakukan pembelian langsung ke para petani dengan harga yang sesuai.

Jumlah produksi dari komoditas pertanian yang diusahakan para petani jeruk di Desa Karangcengis juga menjadi permasalahan. Dimana sebagian dari petani mengeluhkan hasil panennya yang kurang sesuai dengan hasil perhitungannya. Kondisi ini disebabkan oleh kurang maksimalnya pengelolaan usahatani, sehingga menyebabkan kurang optimalnya pertumbuhan dan perkembangan tanaman, penanganan hama dan penyakit, serta penanganan pasca panen dapat terjadi.

Para petani di Desa Karangcengis pada umumnya masih belum mampu menyediakan sarana transportasi sendiri karena kendala modal. Hal ini menyebabkan kurang efisiennya mereka dalam melakukan mobilisasi hasil produknya ke pasaran, sehingga akhirnya mereka memanfaatkan jasa – jasa transportasi yang tentunya biayanya cukup tinggi, dan mengurangi keuntungan yang akan diperoleh.

Kemampuan para petani jeruk daam mencari dan menerima informasi pasar (terutama harga pasaran) ternyata masihrelatif kurang. Hal ini dapat dilihat dengan seringnya terjadi selisih harga jual mereka dengan harga jual dipasaran, dimana harga jual dari para petani lebih rendah dibandingkan di pasar.

Terbatasnya modal adalah masalah yang penting bagi pengembangan usaha tani atau pemasaran buah jeruk. Petani di desa karangcengis (sekitar 20 persen) memiliki masalah akan pemenuhan modal yang lebih besar. Terbatasnya modal ini menyebabkan kurang maksimalnya tingkat keuntungan atau pendapatan yang dieproleh selama kegiatan pemasaran.

Dipublikasi di PENELITIAN/KARYA TULIS | Meninggalkan komentar

Laporan Praktikum Biologi, Transportasi Pada Tumbuhan

PENDAHULUAN

1.1.  Latar Belakang

Untuk mengangkut hasil fotosintesis dari daun ke seluruh bagian tumbuhan serta mengangkut air dan garam-garam mineral dari akar ke daun, tumbuhan menggunakan jaringan pengangkut. Macam Macam Jaringan pengangkut terdiri dari:

  1. Xilem (pembuluh kayu). Xilem disusun oleh trakeid, trakea, pembuluh xilem (pembuluh kayu), parenkim kayu, dan sklerenkim kayu (serabut kayu). Xilem berfungsi untuk mengangkut air dan garam mineral dan dari dalam tanah menuju ke daun.
  2. Floem (pembuluh tapis). Floem disusun oleh sel ayakan atau tapis, pembuluh tapis, sel pengiring, sel parenkim kulit kayu, dan serabut kulit kayu (sel sklerenkim). Floem berfungsi untuk mengangkut zat-zat hasil fotosintesis ke seluruh bagian tubuh. Xilem dan floem bersatu membentuk suatu ikatan pembuluh angkut (Anonim 2012).

Proses fisiologi yang berlangsung pada tumbuhan banyak berkaitan dengan air atau bahan-bahan (senyawa atau ion) yang terlarut di dalam air. Air dapat melarutkan lebih banyak jenis bahan kimia dibandingkan dengan zat cair lainnya. Sifat ini disebabkan karena air memiliki konstanta dielektrik yang paling tinggi. Konstanta dielektrik merupakan ukuran dari kemampuan untuk menetralisir daya tarik-menarik antara molekul atau atom yang bermuatan listrik berbeda. Oleh sebab itu, air merupakan pelarut yang sangat baik untuk ion-ion bermuatan positif maupun negatif. Sisi positif molekul air dapat mengikat anion sedangkan sisi negatifnya akan mengikat kation, sehingga molekul-molekul air seolah membentuk pembungkus bagi ion-ion tersebut. Fenomena ini menyebabkan ion-ion tersebut tidak dapat menyatu untuk membentuk kristal atau endapan (Lakitan 2012).

Penyerapan air yang tidak cukup oleh akar tumbuhan akan menimbulakan defisit air dalam tumbuhan, termasuk sel-sel daun yang akan mengakibatkan penurunan evaporasi air dari daun sehingga laju transpirasi menjadi rendah. Air pada system tanaman akan bergerak dari sumber air di dalam tanah, ke perakaran dan melewati jaringan xylem yang tersusun secara sinambung dan kontinu mulai dari akar, batang dan daun. Pergerakan air dalam tanah ke atmosfer dapat dibagi dalam 3 fase yaitu:

  1. Larutan tanah, dipisahkan dari xilem oleh sebuah membran.
  2. Pembuluh xilem yang berupa tabung sebagai penghubung antara akar dan daun.
  3. Udara, dipisahkan dari ujung xilem bagian atas oleh sebuah membran (Feryanto 2011).

Tujuan Praktikum

Untuk mempelajari transportasi air di dalam jaringan tumbuhan

TINJAUAN PUSTAKA

Sistem jaringan pembuluh pada tumbuhan terdiri dari dua jaringan yaitu xilem dan floem yang berfungsi transport air dan materi organik ke seluruh bagian tumbuhan dan melakukan transport jarak jauh antara akar dan taruk (Iriawati 2009).

Fungsi utama xylem adalah mengangkut air serta zat-zat yang terlarut didalamnya. Floem berfungsi mengangkut zat makanan hasil fotosintesis. Pada batang berkas xylem umumnya berasosiasi dengan floem pada satu ikatan pembuluh. Kombinasi xylem dan floem membentuk sistem jaringan pembuluh di seluruh tubuh tumbuhan, termasuk semua cabang batang dan akar.

Xilem, terdiri dari trakeid, trakea / pembuluh kayu, parenkim xylem, dan serabut / serat xylem. Berdasarkan asal terbentuknya terbagi menjadi xylem primer dan xylem sekunder. Xilem primer berasal dari prokambium sedangkan xilem sekunder berasal dari kambium. Berdasarkan proses terbentuknya xilem primer dapat dibedakan menjadi protoxylem dan metaxylem.  Protoxilem adalah xylem primer yang pertama kali terbentuk sedangkan metaxilem yang terbentuk kemudian.

Floem terdiri dari unsur tapis (sel tapis dan komponen pembuluh tapis), sel pengiring / sel pengantar, parenkim dan serabut / serat floem. Berdasarkan asal terbentuknya terbagi menjadi floem primer dan floem sekunder. Floem primer berasal dari prokambium sedangkan floem sekunder berasal dari kambium.

Berdasarkan proses terbentuknya floem primer terdiri dari protofloem dan metafloem. Protofloem adalah floem primer yang pertama kali terbentuk sedangkan metafloem terbentuk kemudian (winxp 2010).

Air diserap tanaman melalui akar bersama-sama dengan unsur-unsur hara yang terlarut di dalamnya, kemudian diangkut ke bagian atas tanaman, terutama daun, melalui pembuluh xilem. Pembuluh xilem pada akar, batang, dan daun merupakan suatu sistem yang kontinu, berhubungan satu sama lain. Untuk dapat diserap oleh tanaman, molekul-molekul air harus berada pada permukaan akar. Dari permukaan akar ini air (bersama-sama bahan-bahan yang terlarut) diangkut menuju pembuluh xilem. Lintasan pergerakan air dari permukaan akar menuju pembuluh xilem ini disebut lintasan radial pergerakan air (Lakitan 2012).

Masih menurut Lakitan 2012, ada 4 teori yang menjelaskan tentang pengangkutan air di dalam pembuluh xilem yaitu: Teori tekananan akar. Pada awalnya diperkirakan air naik ke bagian atas tanaman karena adanya tekanan dari akar. Hal ini didasarkan atas fakta bahwa jika batang tanaman dipotong dan kemudian dihubungkan dengan selan manometer air raksa, maka air di dalam selang akan terdorong ke atas oleh tekanan yang berasal dari akar. Tetapi dari hasil pengukuran yang intensif pada berbagai jenis tanaman, maka besarnya tekanan tersebut umumnya tidak lebih dari 0,1 Mpa (mega pascal). Selain itu tekanan akar hanya teramati pada kondisi tanah yang berkecukupan air dan kelembaban udara relatif tinggi, atau dengan kata lain pada saat laju transpirasi sengat rendah.

METODE PRAKTIKUM

3.1  Waktu dan Tempat

Waktu pelaksanaan Praktikum ini adalah pada hari Rabu, 4 Desember 2013 dan pengmatannya pada hari Rabu, 11 Desember 2013. Dan Tempat pelaksanaan praktikum adalah Laboratorium ekofisiologi, Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura Pontianak

Bahan dan Alat

Dua pucuk daun puring yang mirip ( satu ranting/ satu cabang ). 2 botol selai yang  besarnya sama, sumbat gabus, veseline, dan pisau kecil.

Cara kerja

  1. Siapkan 2 pucuk puring yang ukuran daunnya sama. Masing-masing dipotong dengan ukuran 30 cm.
  2. Kupas kulit bagian pangkal batang ( buang floemnya ) sepanjang 3 cm dari pangkal batang. Apabila daunnya terlalu banyak boleh dikurangi, tetapi jumlah pucuk keduanya harus sama.
  3. Sisipkan setiap batang melalui sumbat gabus yang telah dilubangi dan di pasang pada botol selai yang telah di isi dengan air ¾ bagian.
  4. Sebelum dimasukan kedalam botol selai satu pucuk puring di bagian pangkalnya di olesi dengan veselin atau bagian xilemnya ditutup dan satu pucuk puringnya lagi di olesi dengan vaseline di bagian floemnya atau floemnya di tutup.
  5. Rendam pucuk tanaman tersebut dalam botol selai yang telah berisi air. Usahakan tanaman tidak tersetuh dasar botol. Beri tanda tinggi permukaan air awal.
  6. Amati setelah satu minggu. Beri tanda. Setiap terjadi penurunan volume air dalam botol, bandingkan kondisi kedua pucuk tanaman tersebut.
  7. Tentukan berapa pengurangan volume yang terjadi pada masing- masing botol

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil

No Pelakuan Volume air Kondisi tanaman
Awal Setelah 7 hari
1 Xilem ditutup 200 ml 189 ml Segar dan utuh
2 Floem di tutup 200 ml 187 ml Segar dan utuh

Pembahasan

Sistem jaringan pembuluh pada tumbuhan terdiri dari dua jaringan yaitu xilem dan floem yang berfungsi transport air dan materi organik ke seluruh bagian tumbuhan dan melakukan transport jarak jauh antara akar dan taruk (Iriawati 2009).

Fungsi utama xylem adalah mengangkut air serta zat-zat yang terlarut didalamnya. Floem berfungsi mengangkut zat makanan hasil fotosintesis. Pada batang berkas xylem umumnya berasosiasi dengan floem pada satu ikatan pembuluh. Kombinasi xylem dan floem membentuk sistem jaringan pembuluh di seluruh tubuh tumbuhan, termasuk semua cabang batang dan akar

Berdasarkan data di atas transportasi yang terjadi yang paling besar atau air yang paling banyak hilang adalah pada pucuk puring yang floemnya ditutup dengan menggunakan vaseline yaitu air yang hilang selama satu minggu adalah 13 ml sedangkan transportasi yang terjadi pada pucuk puring yang xilemnya ditutup jumlah air yang hilang selama satu minggu adalah 11 ml ini mebuktikan bahwa jaringan yang berfungsi mengangkut air dan unsur hara dari akar ke daun adalah jaringan xilem karena pada percobaan ini jika floemnya di tutup maka xilemnya terbuka sehingga jaringan xilem akan mengangkut air dan unsur hara dari akar ke daun tanaman. Sedang fungsi utama dari jaringan floem adalah mengangkut hasil – hasil fotosintesis ke seluruh bagian tumbuhan.

DAFTAR PUSTAKA

http://jeniwidya.blogspot.com/2013/04/transport-air-di-dalam-tubuh-tanaman.html

Adiputra, I.G.K. 2010. Penilaian Status Unsur Hara pada Tumbuhan Menggunakan Pendekatan Biosintesis Sukrosa. Widya Biologi, 1(1): 1-10

Anggarwulan, E, dkk. 2008. Karakter Fisiologi Kimpul (Xanthosoma sagittifolium (L.) Schott) pada Variasi Naungan dan Ketersediaan Air. Biodiversitas, 9(4): 264-268

Evita. 2010. Respon tanaman kacang tanah (Arachis hypogea L.) terhadap Cekaman Air. Percikan, 111: 1-4

 

Dipublikasi di LAPORAN PRAKTIKUM KELAS | Meninggalkan komentar

Laporan Praktikum Biologi, Jaringan Tumbuhan

 

  1. Tujuan

Mengamati, mengidentifikasi, dan membedakan jaringan penyusun; daun, batang dan akar.

  1. Teori dasar

Tubuh tumbuhan tersusun dari sel-sel. Sel-sel tersebut bekumpul menjadi satu yang akan membentuk suatu jaringan, jaringan akan berkumpul membentuk organ dan seterusnya sampai membentuk satu tubuh tumbuhan. Jaringan pada tumbuhan dapat dibagi menjadi 2 yaitu :

  1. Jaringan meristem

Jaringan meristem merupakan jaringan yang terdiri atas sekelompok sel yang aktif membelah. Pembelahan sel tersebut berlangsung secra mitosis. Setiap satu sel meristematik membelah dan menghasilkan sedikitnya satu anakan sel. setiap anakan sel dapat meneruskan pembelahan berikutnya.

Menurut letaknya, jaringan meristem dibedakan menjadi 3 yaitu;

  1. a) Meristem Apikal

Merupakan meristem yang terdapat pada ujung-ujung batang dan ujung akar tumbuhan. Pembelahan meristem apical menyebabkan pemanjangan pada batang dan akar tumbuhan. Pertumbuhan ini termasuk pertumbuhan meristem primer dan jaringan yang dihasilkannya disebut jaringan primer. Jaringan primer bersifat besifat keras dan berkayu.

  1. b) Meristem Lateral

Merupakan meristem yang letaknya sejajar dengan keliling organ tempat jaringan ini ditemukan. Misalnya, berupa cambium pembuluh dan cambium gabus. Pembelahan meristem lateral menyebabkan pembesaran pada batang dan akar tumbuhan. Pertumbuhan yang dihasilkan oleh meristem ini adalah perumbuhan sekunder dan jaringan yang dibentuk adalah jaringan sekunder.

  1. c) Jaringan Interkalar

Merupakan jaringan meristem yang terdapat di antara jaringan dewasa. Misalnya, di daerah pangkal ruasruas batang rumput-rumputan, ruas-ruas tebu.

Menurut asalnya, jaringan meristem dibedakan menjadi 2 yaitu:

  1. Meristem Primer

Meristem primer adalah meristem yang berasal langsung dari perkembangan sel-sel embrio. Meristem primer bertanggung jawab terhadap pertumbuhan primer.

  1. Meristem sekunder

Merupakan meristem yang berasal dari perkembangan jaringan yang telah mengalami diferensiasi. Meristem sekunder bertanggung jawab terhadap pertumbuhan sekunder. Contohnya adalah cambium.

  1. Jaringan dewasa

Merupakan jaringan yang telah mengalami deferensiasi dan tidak meristematis lagi (tidak tumbuh dan memperbanyak diri).

Ciri-ciri dari jaringan permanen yaitu :

–    sel-selnya sudah tidak membelah

–    bentuknya tetap

–    vakoula besar

–    dinding  sel sudah mengalami penebalan

Macam-macam jaringan permanen, meliputi :

  1. Epidermis

Adalah jaringan atau lapisan terluar yang menutupi permukaan tubuh tumbuhan, seperti akar, batang, daun dan bunga. Karena fungsinya untuk melindungi jaringan lain maka beberapa epidermis mengalami modofikasi, seperti rambut (trikoma), duri, dan muluit daun (stomata). Epidermis umumnya tertutup lapisan lilin (kutikula) pada daun dan zat gabus pada batang, kecuali lentisel yang berfungsi untuk pertukaran gas.

Ciri-ciri dari jaringan epidermis yaitu :

– terdiri atas satu lapis sel

– tidak berklorofil

– susunan sel rapat

– tidak ada ruang antar sel

– dinding sel sangat tipis

  1. Parenkim (jaringan dasar)

Merupakan jaringan yang berfungsi untuk memperkuat kedudukan jaringan yang lain. Disebut jaringan dasar karena terbentuk dari meristem dasar yang terdapat hampir di semua tumbuhan dan mengisi jaringan tumbuhan baik pada akar, batang, daun, biji maupun buah.

Ciri-ciri dari jaringan parenkim yaitu :

– sel umumnya berukuran besar dan berdinding tipis

– sel hidup dan mengandung klorofil

– banyak mengandung rongga antar sel

– banyak mengandung vakuola

– letak selnya tidak rapat

Macam-macam jaringan parenkim :

klorenkim : parenkim untuk fotosintesis, karena selnya  mengandung klorofil. Misal : parenkim palisade (jaringan pagar) dan parenkim spon (bunga karang).

aerenkim : parenkim untuk menyimpan udara sehingga dapat digunakan untuk mengapung.

parenkim air : parenkim untuk menyimpan air

parenkim penimbun : parenkim untuk menyimpan cadangan bahan makanan.

  1. Jaringan Penyokong/ penguat/ penunjang

Merupakan jaringan yang berfungsi untuk menunjang agar tanaman dapat berdiri dengan kokoh dan kuat. Jaringan penunjang dibedakan menjadi  :

kolenkim : adalah jaringan penunjang pada tumbuhan muda dan belum berkayu yang dinding sel di bagian sudut-sudutnya mengalami penebalan dan tersusun atas sel-sel yang hidup.  Contoh : pada batang bayam

–          sklerenkim : adalah laringan penguat yang dinding selnya melami penebalan dari zat kayu (lignin) sehingga bersifat lebih kuat. Ada 2 macam sklerenkim :

sklereida (sel batu) : pada tempurung kelapa dan tempurung kenari

serabut sklerenkim (serat/ fiber) : pada serat rami.

  1. Jaringan Pengangkut

Merupakan jaringan yang berguna untuk transportasi hasil fotosintesis dari daun ke seluruh

bagian tumbuhan serta mengangkut air dan garam mineral dari akar ke daun.

Jaringan pengangkut terdiri dari :

xylem (pembuluh kayu) : sel penyusunnya berupa trakeid, trakea dan parenkim xylem.

Terdapat pada bagian kayu. Fungsinya mengangkut air dan unsur hara dari akar ke daun

floem (pembuluh tapis) : terdiri dari sel hidup, berdinding selulosa dan dindingnya melintang.

Terdapat pada bagian kulit kayu. Pada samping ploem terdapat  sel pengiring.

  1. Jaringan Gabus

Tersusun atas sel-sel gabus. Berfungsi melindungi jaringan lain yang terdapat di sebelah bawahnya agar tidak kehilangan air yang berlebihan. Pada tumbuhan dikotil jaringan gabus dibentuk oleh kambium gabus (felogen). Sel-sel hidup yang dibentuk oleh felogen ke arah dalam disebut feloderm, sedangkan sel-sel mati yang dibentuk oleh felogen ke arah luar disebut felem.

Macam Jaringan pada Organ Tumbuhan

  1. Akar

Akar merupakan organ tumbuhan yang kebanyakan berada di bawah permukaan tanah. Fungsi akar yaitu untuk melekatkan tumbuhan pada substrat, menyerap air dan berbagi garam mineral, tempat menyimpan makanan, sebagai alat pernafasan, dan menghasilkan hormon yang dapat merangsang perumbuhan pada batang.

Struktur anatomi akar yaitu:

  1. Epidermis

Susunan sel-selnya rapat dan setebal satu lapis sel, dinding selnya mudah dilewati air. Bulu akar merupakan modifikasi dari sel epidermis akar, bertugas menyerap air dan garam-garam mineral terlarut, bulu akar memperluas permukaan akar.

  1. Korteks

Letaknya langsung di bawah epidermis, sel-selnya tidak tersusun rapat sehingga banyak memiliki ruang antar sel sehingga memungkinkan air air dan garam mineral bergerak melalui korteks tanpa masuk ke dalam sel. Sebagian besar dibangun oleh jaringan parenkim.

  1. Endodermis

Merupakan lapisan pemisah antara korteks dengan silinder pusat. Sel-sel endodermis dapat mengalami penebalan zat gabus pada dindingnya dan membentuk seperti titik-titik, dinamakan titik Caspary. Pada pertumbuhan selanjutnya penebalan zat gabus sampai pada dinding sel yang menghadap silinder pusat, bila diamati di bawah mikroskop akan tampak seperti hutuf U, disebut sel U, sehingga air tak dapat menuju ke silinder pusat. Tetapi tidak semua sel-sel endodermis mengalami penebalan, sehingga memungkinkan air dapat masuk ke silinder pusat. Sel-sel tersebut dinamakan sel penerus/sel peresap.

  1. Stele

Silinder pusat/stele merupakan bagian terdalam dari akar.

Terdiri dari berbagai macam jaringan :

–          Persikel/Perikambium
Merupakan lapisan terluar dari stele. Akar cabang terbentuk dari pertumbuhan persikel ke arah luar.

–          Berkas Pengangkut

Terdiri atas xilem dan floem yang tersusun bergantian menurut arah jari jari. Pada dikotil di antara xilem dan floem terdapat jaringan kambium.

–          Empulur

Letaknya paling dalam atau di antara berkas pembuluh angkut terdiri dari jaringan parenkim.

  1. Batang

Batang merupakan bagian sumbu tumbuhan dengan cabang-cabang lateral. Pada umumnya batang terletak di permukaan tanah, tumbuh tegak menjulang ke atas. Batang berfungsi sebagai alat transportasi yaitu menyalurkan air dan garam-garam mineral dari akar ke daun dan menalurkan hasil fotosintesis dari daun keseluruh tubuh. Sebagai tempat melekatnya daun, dan sebagai tempat penyimpanan misalnya untuk menyimpan air pada kaktus dan penyimpanan makanan pada tebu.

Struktur anatomi batang yaitu:

  1. Epidermis

Epidermis batang terdiri dari satu lapisan sel yang pada permukaan luarnya dilapisi oleh kutikula. Lapisan tersebut berfungsi untuk melindungi batang dari kekeringan.

  1. Korteks dan Emuplur

Korteks batang terdiri atas sel-sel parenkim dan biasanya berisi kloroplas. Pada tumbuhan tertentu, bagian tepi luara korteks sering terdapat kolenkim atau sklerenkim sebagai jaringan pengokoh. Pada batang muda, korteks mengandung butir-butir pati sehingga disebut seludang pati. Empulur terdiri atas sel-sel parenkim yang dapat mengandung kloroplas. Bagian tengah empulur sering kali mengalami kerusakaan pada saat pembuahannya. Kerusakaan demikian biasanya terjadi di daerah ruas.

  1. Jaringan Pembuluh

Jaringan pembuluh primer batang terdiri dari sejumlah ikatan pembuluh yang tersusu khusus. Setiap ikatan pembuluh memiliki xylem yang tersusun kea rah dalam dan floem kea rah luar. Susunan ikatan pembuluh demikian dikenal sebagai ikatan pembuluh kolateral. Jika di antara xylem dan floem terdapat cambium, maka disebut kolateral terbuka. Dan jika tidak ada cambium maka disebut kolateral tertutup. Tipe kolateral terbuka biasanya terdapat pada tumbuhan dikotil dan kotateral tertutup terdapat pada tumbuhan monokotil.

3) Daun

Daun merupaka organ fotosintesis bagi tumbuhan berpembuluh. Pada umumnyadaun terdiri atas helai daun(lamina) yang pipih dan tangkai(petiolus) yang menghubungkan daun ke batang. Helai daun dapat berupa daun tunggal atau daun majemuk. Daun dibangun ole tiga jaringan utama. Ketiga jaringan tersebut adalah jaringa dermal(epidermis), jaringan dasar(mesofil) dan jaringan pembuluh(berkas pembuluh).

Struktur anatomi daun yaitu :

  1. Epidermis

Epidermis merupakan lapisan terluar daun, ada epidermis atas dan epidermis bawah, untuk mencegah penguapan yang terlalu besar, lapisan epidermis dilapisi oleh lapisan kutikula. Pada epidermis terdapat stoma/mulut daun, stoma berguna untuk tempat berlangsungnya pertukaran gas dari dan ke luar tubuh tumbuhan.

Sifat terpenting daun adalah selnya yang kompak dan adanya kutikula dan stomata.

  1. Mesofil

Merupakan jaringan dasar yang berisi banyak kloroplas dan bnyak ruang-ruang antar sel. mesofil dapat berdirerensiasai menjasi parenkim palisade dan parenkim spons. Parenkim palisade terdiri atas sel-sel yang panjang dan tegak lurus terhapad permukaan daun, sedangkan parenkim spons mengandung sel-sel dengan bentu tidak beraturan dan memiliki banyak rongga sel. pada parenkim spons rongga-songga sel berguna untuk tempat pertukaran gas.

  1. Berkas Pembuluh

Berkas pembuluh daun tersebar dari seluruh helaian daun. Berkas pembuluh pada bagian tengah helaian daun membentuk tulang daun. Berkas pembuluh pada daun ini merupakan lanjutan dari berkas pembuluh yang terdapat pada batang. Pola yang dibentuk oleh tulang daun disebut pertulangan daun. Ada dua pola utama pertulangan daun, yaitu daun pertulangan jala dan pertulanan sejajar

  1. Alat dan Bahan
  2. Mikroskop
  3. Preparat awetan akar dikotil; Helianthus sp.
  4. Preparat awetan akar monokotil
  5. Preparat awetan batang dikotil
  6. Preparat awetan batang monokotil
  7. Preparat awetan daun dikotil; Ficus sp.
  8. Preparat awetan daun monokotil; Zea mays
  1. Cara kerja
  2. Menyiapkan semua alat dan bahan yang diperlukan
  3. Meletakan preparat awetan daun monokotil; Zea mays diatas meja preparat mikroskop
  4. Mengamatinya dengan seksama
  5. Memotret hasil pengamatan
  6. Mengulangi langkah 2, 3, 4 untuk preparat awetan akar dikotil, akar monokotil, batang dikotil, batang monokotil, dan daun dikotil secara bergantian.

 

  1. Hasil pengamatan

Akar dico Helianthus sp

 

akar monokotil

 

batang monokotil

 

Daun dico Ficus sp

 

Daun mono Zea mays

Pertanyaan

  1. Apa perbedaan akar dikotil dan akar monokotil?
Akar monokotil Akar dikotil
–  Sistem perakaranya serabut

– Batas ujung akar dan kaliptra jelas

– Perisikel terdiri dari beberapa lapis sel

berdinding tebal. Persikelnya hanya

membentuk cabang akar

– Punya empulur yang luas sebagai pusat

akar

– Tidak ada kambium

– Jumlah lengan protoxilem banyak

–  Letak xilem dan floem berselang-seling

– Sistem perakaranya tunggang

– Batas ujung akar dan kaliptra tidak jelas

– Perisikel terdiri dari 1 lapis sel.

Persikelnya membentuk cabang-cabang

akar meristem sekunder

– Tidak punya empulur pada pusat akar

/ empulurnya sempit

– Mempunyai kambium

– Jumlah lengan xilem antara 2-6

– Letak xilem di dalam dan floem di luar

(dengan kambium sebagai pembatas)

  1. Apa perbedaan batang dikotil dan daun monokotil?
Batang monokotil Batang dikotil
–   Batang tidak bercabang-cabang

–   Pembuluh angkut tersebar

 

–   Tidak mempunyai kambium vaskuler, sehingga tidak dapat tumbuh membesar

–   Mempunyai meristem interkalar

–   Tidak memiliki jari-jari empulur

–   Tidak dapat dibedakan antara korteks dan empulur

–   Batang bercabang

–   Pembuluh angkut teratur dalam  susunan lingkaran atau berseling radial

–  Mempunyai kambium vaskuler, sehingg dapat tumbuh membesar

–   Tidak mempunyai meristem interkalar

–   Jari-jari empulur berupa deretan parenkima di antara berkas pengangkut

–  Dapat dibedakan antara daerah korteks dan empulur

  1. Apa perbedaan daun monokotil dan daun dikotil?
Daun monokotil Daun dikotil
–        Pertulangan daun melengkung

–        Tidak terdapat empulur

–        Tidak memiliki jaringan parenkim palisade

                 –       Pertulangan daun menyirip

–       Terdapat empulur

–       Memiliki jaringan palisade

  1. Keismpulan
  1. Jaringan  yang  menyusun  daun  dikotil adalah  epidermis,  jaringan  tiang,stomata,

jaringan pengangkut, dan epidermis bawah.

  1. Jaringan yang menyusun daun monokotil adalah epidermis, jaringan spons,stomata,

jaringan pengangkut, dan epidermis bawah.

  1. Jaringan yang menyusun batang monokotil adalah epidermis, korteks, dan jaringan pengangkut.
  2. Jaringan  yang  menyusun  batang  dikotil  adalah  epidermis,  korteks, endodermis, perisikel, dan jaringan pengankut.
  3. Jaringan  yang  menyusun  akar  monokotil  adalah  epidermis,  korteks,endodermis, cambium, dan  jaringan  pengangkut.
  4. Jaringan yang menyusun akar dikotil adalah  epidermis, korteks, endodermisdan jaringan pengangkut.
Dipublikasi di LAPORAN PRAKTIKUM KELAS | Meninggalkan komentar

Laporan Praktikum Kimia,Pengaruh Suhu Terhadap Laju Reaksi

A.PENDAHULUAN

A.1.Pengaruh Suhu Terhadap Laju Reaksi (Landasn Teori)

Laju reaksi kimia bertambah dengan naiknya suhu,umumnya kenaikan suhu sebesar 100Celcius menyebabkan kenaikan laju reaksi 2 sampai 3 kali.kenaikan laju reaksi ini dapat diterangkan dari gerak molekulnya.molekul molekul dalam suatu zat kimia selalu bergerak-gerak.Oleh karena itu,Kemungkinan terjadi tabrakan antar molekul selalu ada.Tabrakan yang efektif Dapat menghasilkan suatu reaksi.Energi yang dapat menghasilkan tabrakan yang efektif disebut energy pengaktifan.

Pada suhu tertentu ada molekul molekul yang bertabrakan secara efektif dan ada yang bertabrakan tidak efektif.Menaikkan suhu reaksi berarti menambah Energi.energi diserap oleh molekul molekul sehingga energy kinetic molekul menjadi lebih besar.Akibatnya,molekul molekul bergerak lebih cepat dan tabrakan dengan benturan yang lebih besar sering terjadi.Jadi,benturan antara molekul yang mempunyai energy kinetic yang cukup tinggi menyebabkan reaksi kimia juga makin banyak terjadi berarti pula laju reaksi makin tinggi dengan naiknya temperature.

A.2.Alat dan Bahan

 

No. Nama Alat dan Bahan            JUMLAH
1

2

3

4

5

6

7

Gelas kimia 250ml 2
Alat Pembakar 1
Kaki 3-Kasa 1/1
Alat Pengukur waktu 1
Termometer 0-1000C 1
Larutan Na2S2O3 0,1 M 200ml
Larutan HCL 3 M 20ml

B.Langkah Dan Cara Kerja

B.1.Cara Kerja

  1. Buatlah tanda silang yang sama pada 2 helai kertas,kemudian letakkan 2 gelas kimia pada 2 kertas yang bertanda silang tersebut
  2. Masukkan 100 ml larutan Na2S2O3 0,1M Ke dalam gelas ukur kimia 1,ukur suhunya dan catat suhunya
  3. Tambahkan 10 ml HCl 3 M.Catat waktu sejak penambahan itu sampai tanda silang itu hilang

4.Masukkan 100 ml larutan Na2S2O3 0,1 M ke dalam gelas kimia 2 dan panaskan hingga suhu 360C,catat suhunya.Tambahkan 10 ml HCl 3M dan catat waktunya seperti diatas.Berapa detik waktunya sampai tanda silang hilang?

HASIL PENGAMATAN

PERCOBAAN Volume Suhu

(0Celcius)

Waktu

(Detik)

Na2S2O30,1 M HCl 3 M
1 100 ml 10 ml 32 36
2 100 ml 10 ml 36 27

Hasil Pengamatan :

1.Waktu yang diperlukan untuk bereaksi (pada percobaan diatas) jika reaksi ada pada suhu kamar 320,dan jika pereaksi dipanaskan? Menjadi 360,mana yang bereaksi lebih cepat?

Jawab  : Yang Dipanaskan hingga bersuhu 360Celcius

2.Mengapa salah satu reaksi berlangsung lebih cepat?

Jawab  : Karena jika Semakin tinggi suhu yang dimiliki pereaksi maka akan semakin cepat pula laju reaksinya

  1. Jelaskan mengapa kenaikan suhu dapat memperbanyak terjadinya tumbukan antar molekul molekul pereaksi

Jawab  :  karena menaikkan suhu berarti menambah energy pengaktifan,sehingga menambah energy kinetic.Kenaikkan energy kinetic tersebut menyebabkan gerakan molekul molekul menjadi lebih cepat dan tabrakan besar pun lebih sering terjadi.

4.Bagaimana pengaruh suhu terhadap laju reaksi?

Jawab  : Kenaikkan suhu dapat mempercepat laju reaksi,pada umumnya setiap kenaikkan 100C dapat mempercepat reaksi hingga 2-3X.Karena kenaikkan Suhu dapat menambah energy pengaktifan,sehingga menambah energy kinetic.Kenaikkan energy kinetic tersebut menyebabkan gerakan molekul molekul menjadi lebih cepat dan tabrakan besar pun lebih sering terjadi.tabrakan antar molekul ini menyebabkan reaksi kimia yang makin banyak,sehingga mempercepat laju reaksi.

C.Evaluasi

1.Jelaskan mengapa kenaikkan suhu dapat mempercepat laju reaksi

Jawab  : Karena kenaikkan Suhu dapat menambah energy pengaktifan,sehingga menambah energy kinetic.Kenaikkan energy kinetic tersebut menyebabkan gerakan molekul molekul menjadi lebih cepat dan tabrakan besar pun lebih sering terjadi.tabrakan antar molekul ini menyebabkan reaksi kimia yang makin banyak,sehingga mempercepat laju reaksi.

2.Suatu laju reaksi berubah kecepatannya menjadi 2X lipat setiap kenaikkan 150.Apabila pada suhu 250C laju reaksinya sama dengan V,berapa laju reaksinya pada suhu 850C

Jawab  : 250=V,400=2V,550=4V,700=8V,850=16V

3.Laju reaksi dari suatu reaksi tertentu bertambah menjadi 2x lipat untuk tiap kenaikkan 100C.berapa kali lebih cepatkah reaksi tersebut akan berlangsung pada 750C dibandingkan saat 250C

Jawab : 250C=V,350C=2V,450C=4V,550=8V,650=16V,750=32V,maka kecepatannya akan menjadi 32x lipat dari saat 250C

D.PENERAPAN DALAM KEHIDUPAN SEHARI HARI

Dalam kehidupan sehari-hari kita sering melakukan pemanasan terhadap sesuatu dengan tujuan agar kegiatan yang kita lakukan menjadi lebih cepat.Jelaskan pengaruh suhu terhadap peristiwa-peristiwa dibawah ini :

A.Melarutkan Gula

B. Membuat air kopi/Air Teh

C. Berolahraga bagi orang yang kelebihan lemak

D. Menjemur Pakaian

Jawab  :

A. Gula akan larut bila dipanaskan/dilarutkan dalam air panas,bila dibandingkan dengan dilarutkan dengan air dingin,maka gula akan berkali kali lipat kecepatan pelarutannya bila dipanaskan

B. Kopi juga akan larut bila dipanaskan dengan air panas,karena suhu air panas akan mempercepat pelarutan kopi

C. Dengan berolahraga bagi orang yang kelebihan lemak maka akan membakar lemak lemak yang berlebih di dalam tubuhnya karena dia kelelahan berolahraga,dan ber ekskresi dengan membakar lemak dan membuat keringat

D. Menjemur pakaian juga dipengaruhi suhu,karena bila pakaian dijemur di suhu yang panas maka air dalam baju tersebut akan menguap,sehingga cepat kering

Dipublikasi di LAPORAN PRAKTIKUM KELAS | Meninggalkan komentar

Laporan Praktikum Biologi, Uji Larutan Asam Basa

Judul Praktikum

Identifikasi larutan asam dan basa.

  1. Tujuan Praktikum

Membedakan larutan asam, larutan basa, dan larutan netral dengan kertas lakmus.

  1. Teori Dasar

Asam dan basa merupakan zat kimia yang memiliki sifat-sifat yang dapat membantu kita untuk membedakannya.

  • Asam

Menurut Arrhenius, asam adalah senyawa yang jika dilarutkan ke dalam air menghasilkan ion H+.

Sifat-sifat asam diantaranya adalah:

  1. Terasa masam
  2. Bersifat korosif (merusak logam, marmer, dan berbagai bahan lain)
  3. Terionisasi menghasilkan ion H+
  4. Memiliki pH < 7
  5. Memerahkan lakmus biru

Contoh senyawa yang termasuk pada asam, yaitu:

¨      HCl

¨      H2SO4

¨      CH3COOH

¨      H3PO4

  • Basa

Menurut Arrhenius, basa adalah senyawa yang jika dilarutkan ke dalam air menghasilkan ion OH.

Sifat-sifat basa diantaranya adalah:

  1. Terasa pahit
  2. Bersifat kaustik (licin seperti bersabun)
  3. Terionisasi menghasilkan ion OH
  4. Memiliki pH > 7
  5. Membirukan lakmus merah

Contoh senyawa yang termasuk pada basa, yaitu:

¨      NaOH

¨      Ba(OH)2

¨      NH4OH

¨      KOH

Untuk mengenali sifat suatu larutan dapat diketahui dengan menggunakan indikator asam basa. Indikator asam basa adalah suatu zat yang memberikan warna berbeda pada larutan asam dan larutan basa. Dengan adanya perbedaan warna tersebut, indikator asam basa dapat digunakan untuk mengetahui apa suatu zat termasuk larutan asam atau larutan basa. Salah satu indikator asam basa yang praktis digunakan adalah lakmus. Lakmus berasal dari spesies lumut kerak yang dapat berbentuk larutan atau kertas. Lakmus yang sering digunakan berbentuk kertas, karena lebih sukar teroksidasi dan menghasilkan perubahan warna yang jelas.

Ada 2 jenis kertas lakmus, yaitu:

  • Kertas lakmus merah

Kertas lakmus merah berubah menjadi berwarna biru dalam larutan basa dan pada larutan asam atau netral warnanya tidak berubah (tetap merah).

  • Kertas lakmus biru

Kertas lakmus biru berubah menjadi berwarna merah dalam larutan asam dan pada larutan basa atau netral warnanya tidak berubah (tetap biru).

  1. Alat dan Bahan

Ø  16 larutan yang diuji, yaitu:

Air sprite, air aqua des, air jeruk, air kelapa, air limbah, air PDAM, air zam-zam, air sawah, air susu, air sabun, air sumur, larutan cuka, larutan kapur, larutan garam, larutan sirup, dan larutan gula.

Ø  Plat tetes

Ø  Pipet tetes

Ø  Kertas lakmus

  1. Langkah Kerja

ü  Masukkan larutan yang akan diuji ke dalam plat tetes

ü  Uji dengan kertas lakmus merah dan kertas lakmus biru

ü  Amati dan catat perubahan warna yang terjadi.

ü  Kelompokkan larutan yang sudah diuji tersebut ke dalam sifat asam, basa atau netral dan catat pada tabel hasil pengamatan.

  1. Hasil Pengamatan
No Larutan Yang Diuji Lakmus Merah Lakmus Biru Sifat Larutan
1 Air Sprite Merah Biru Netral
2 Larutan Sirup Merah Merah Asam
3 Air Aqua des Merah Biru Netral
4 Air Jeruk Merah Merah Asam
5 Air Kelapa Merah Merah Asam
6 Air Limbah Biru Biru Basa
7 Larutan Garam Merah Biru Netral
8 Air PDAM Merah Biru Netral
9 Air Sawah Merah Biru Netral
10 Air Susu Biru Biru Basa
11 Larutan Gula Merah Biru Netral
12 Air Sumur Biru Biru Basa
13 Larutan Cuka Merah Merah Asam
14 Larutan  Kapur Biru Biru Basa
15 Air Zam-zam Biru Biru Basa
16 Air Sabun Merah Merah Asam
  1. Pembahasan

Dalam teorinya telah disebutkan bahwa asam mempunyai rasa masam, sedangkan basa mempunyai rasa pahit. Namun begitu, tidak dianjurkan untuk mengenali asam dan basa dengan cara mencicipinya, sebab banyak diantaranya yang dapat merusak kulit (korosif) atau bahkan bersifat racun.

Asam dan basa dapat dikenali dengan menggunakan zat indikator, yaitu zat yang memberi warna berbeda dalam lingkungan asam dan lingkungan basa (zat yang warnanya dapat berubah saat berinteraksi atau bereaksi dengan senyawa asam maupun senyawa basa). Seperti pada pengujian yang telah dilakukan dan memperoleh hasil sebagai berikut :

  • Pada pengujian air sirup, air kelapa, air cuka, air jeruk, dan air sabun (mama lemon) menghasilkan kertas lakmus merah tetap berwarna merah dan kertas lakmus biru berubah menjadi warna merah. Hal ini menunjukkan bahwa air sirup, air kelapa, air cuka, air jeruk, dan air sabun bersifat asam. Air sabun bersifat asam, karena sudah terkontaminasi / menggunakan air sabun mama lemon yang mengandung asam sehingga pada pengujiannya air sabun tersebut bersifat asam.
  • Pada pengujian air limbah, air susu, air sumur, air kapur, dan air zam-zam menghasilkan kertas lakmus merah berubah menjadi warna biru dan kertas lakmus biru tetap berwarna biru. Hal ini menunjukkan bahwa air limbah, air susu, air sumur, air kapur, dan air zam-zam (sudah terkontaminasi) bersifat basa.
  • Pada pengujian air sprite, air aqua des, air PDAM, air sawah, larutan garam dan larutan gula menghasilkan kertas lakmus merah berwarna merah dan kertas lakmus biru tetap berwarna biru. Hal ini menunjukkan bahwa air sprite, air aqua des, air PDAM, air sawah, larutan garam dan larutan gula bersifat netral.
  1. Kesimpulan

Berdasarkan hasil pengujian yang telah dilakukan, dapat diambil beberapa kesimpulan, diantaranya :

  • Larutan yang bersifat asam dapat memerahkan kertas lakmus biru;
  • Larutan yang bersifat basa dapat membirukan kertas lakmus merah;
  • Larutan yang bersifat netral tidak mengalami perubahan warna pada kertas lakmus merah dan biru.

 

  1. Judul Praktikum

Membuat indikator dari zat warna pada tumbuhan.

  1. Tujuan Praktikum

Mempelajari berbagi jenis bahan alam yang dapat digunakan sebagai indikator asam basa.

  1. Teori Dasar

Indikator alam merupakan bahan alam yang dapat berubah warnannya dalam larutan yang sifatnya berbeda, asam, basa atau netral. Indicator alam yang biasa digunakan untuk pengujian asam basa adalah bunga-bungaan, umbi, kulit buah dan daun yang berwarna.

Beberapa contoh tumbuhan yang biasa digunakan sebagai indikator asam basa yaitu:

  • Bunga kembang sepatu
  • Bunga mawar
  • Kunyit
  • Wortel
  • Kol merah
  • Kulit maggis
  • Bit
  1. Alat dan Bahan

Ø  Plat tetes

Ø  Pipet tetes

Ø  Larutan NaOH 1 M

Ø  Larutan HCl 1 M

Ø  5 ekstrak tumbuhan yang di uji, yaitu:

Ekstrak bunga mawar, kunyit, bunga kembang sepatu, wortel dan daun pandan.

  1. Langkah Kerja

ü  Isi 5 lubang masing-masing 3 tetes dengan larutan HCl

ü  Isi 5 lubang masing-masing 3 tetes dengan larutan NaOH

ü  Teteskan 3 tetes larutan ekstrak pada lubang HCl dan NaOH

ü  Amati dan catat perubahan warna yang terjadi.

  1. Hasil Pengamatan
No Ekstrak Warna Asli Perubahan Warna
Ekstrak HCl Ekstrak NaOH
1 Mawar Coklat Merah Coklat
2 Wortel Orange Orange Orange
3 Kunyit Kuning Kuning Coklat kekuningan
4 Kembang Sepatu Merah Merah muda Hijau muda
5 Daun Pandan Hijau Hijau tua Hijau
  1. Pembahasan

Ekstrak mawar                    : dapat dijadikan sebagai indikator alami

Ekstrak wortel                     : tidak dapat dijadikan indikator alami

Ekstrak kunyit                     : tidak dapat dijadikan indikator alami

Ekstrak kembang sepatu    : dapat dijadikan indikator alami

Ekstrak daun pandan         : tidak dapat dijadikan indikator alami

  • Pada ekstrak bunga mawar dan kembang sepatu dapat dijadikan sebagai indikator alami karena mengalami perubahan warna yang kontras/signifikan saat dicampurkan dengan larutan NaOH dan HCl.
  • Pada ekstrak wortel, kunyit, dan daun pandan tidak dapat dijadikan sebagai indikator alami karena tidak mengalami perubahan warna yang berbeda.
  1. Kesimpulan

Berdasarkan hasil pengujian yang telah dilakukan, dapat diambil kesimpulan bahwa indikator pembeda asam basa yang baik adalah zat warna yang dapat memberikan perubahan warna yang signifikan.

Dipublikasi di LAPORAN PRAKTIKUM KELAS | Meninggalkan komentar